Jumat, 13 Februari 2015

DETEKSI DINI KOMPLIKASI MASA NIFAS



BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Masa nifas merupakan masa yang diawali sejak beberapa jam setelah plasenta lahir dan berakhir setelah 6 minggu setelah melahirkan. Akan tetapi seluruh organ kandungan baru pulih kembali, seperti dalam keadaan sebelum hamil dalam waktu 3 bulan setelah bersalin.
Masa nifas tidak kalah penting dengan masa-masa ketika hamil, karena pada saat ini organ-organ reproduksi sedang mengalami proses pemulihan setelah terjadinya proses kehamilan dan bersalin.
Masa nifas dapat dibagi menjadi 3 bagian yaitu pasca nifas, masa nifas  dini, dan masa nifas lanjut, yang masing-masing memiliki cirri khas tertentu. Pasca nifas adalah masa setelah persalinan sampai 24 jam sesudahnya (0-24 jam setelah melahirkan). Masa nifas dini adalah masa permulaan nifas yaitu 1 hari sesudah melahirkan sampai 7 hari lamanya (1 minggu pertama). Masa nifas lanjut adalah 1 minggu sesudah melahirkan sampai dengan 6 minggu setelah melahirkan.
Periode pasca persalinan meliputi masa transisi kritis bagi ibu, bayi dan keluarganya secara fisiologis, emosional dan social. Baik di Negara maju maupun Negara berkembang, perhatian utama bagi ibu dan bayi terlalu banyak tertuju pada masa kehamilan dan persalinan, sementara keadaan yang sebenarnya justru merupakan kebalikannya, oleh karena resiko kesakitan dan kematian ibu serta bayi lebih sering terjadi pada masa pascapersalinan. Keadaan ini terutama disebabkan oleh konsekuensi ekonomi, disamping ketidaktersediaan pelayanan atau rendahnya peranan pasilitas kesehatan dalm menyediakan pelayanan kesehatan yang cukup berkualitas. Rendahnya kualitas pelayanan kesehatan juga menyebabkan rendahnya keberhasilan promosi kesehatan dan deteksi dini sera penatalaksanaan yang adekuat terhadap masalah dan penyakit yang timbul pada masa pascapersalinan (Saifuddin, 2008). 
Walaupun menderita nyeri dan tidak nyaman, kelahiran bayi biasanya merupakan peristiwa yang menyenangkan karena dengan berakhirnya masa kehamilan yang telah lama ditunggu-tunggu dan dimulainya suatu kehidupan baru. Namun kelahiran bayi juga merupakan suatu masa kritis bagi kesehatan ibu. Kemungkinan timbul masalah atau penyulit
Cakupan kunjungan ibu nifas pada tahun 2009 adalah 71,54%, sementara target cakupan kunjungan ibu nifas pada tahun 2015 adalah 90%. Berdasarkan data dari profil kesehatan tahun 2009 cakupan kunjungan masa nifas di Jawa Tengah yaitu 73, 38%.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa saja komplikasi yang harus dideteksi secara dini pada masa nifas ?
2.      Bagaimana contoh SOAP masa nifas ?

C.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui apa saja deteksi dini komplikasi masa nifas
2.      Untuk mengetahui bagaimana contoh soap pada ibu nifas



BAB II
PEMBAHASAN

A.     Deteksi dini komplikasi masa nifas
1.      Perdarahan pervaginam
Perdarahan postpartum paling sering diartikan sebagai keadaaan kehilangan darah lebih dari 500 ml selama 24 jam pertama sesudah kelahiran bayi. Perdarahan post partum adalah merupakan penyebab penting kehilangan darah serius yang paling sering dijumpai di bagian obstetrik. Sebagai penyebab langsung kematian ibu, perdarahan postpartum merupakan penyebab sekitar ¼ dari keseluruhan kematian akibat perdarahan obstetrik yang diakibatkan oleh perdarahan postpartum.
Perdarahan pervaginam yang melebihi 500ml setelah bersalin didefinisikan sebagai perdarahan pasca persalinan. Terdapat beberapa masalah mengenai definisi ini.
a.       Perkiraan kehilangan darah biasanya tidak sebanyak yang sebenarnya, kadang – kadang hanya setengah dari biasanya. Darah tersebut bercampur dengan cairan amnion atau dengan urine, darah juga tersebar pada spon, handuk dan kain didalam ember dan dilantai.
b.      Volume darah yang hilang juga bervariasi akibatnya sesuai dengan kadar hemoglobin ibu. Seorang ibu dengan kadar Hb normal akan dapat menyesuaikan diri terdahap kehilangan darah yang akan berakibat fatal pada anemia. Sseorang ibu yang sehat dan tidak anemipun dapat mengalami akibat fatal dari kehilangan darah.
c.       Perdarahan dapat terjadi dengan lambat untuk jangka waktu beberapa jam dan kondisi ini dapat tidak dikenali sampai terjadi syok.
Penilaian resiko pada saat antenatal tidak dapat memperkirakan akan terjadi perdarahan pasca persalinan. Penanganan aktif kala III sebaiknya dilakukan pada semua wanita yang bersalin karena hal ini dapat menurunkan insiden perdarahan pasca persalinan akibat atonia uteri. Semua ibu pasca bersalin harus dipantau dengan ketat untuk mendiagnosa perdarahan fase persalinan.
Jenis perdarahan pervaginam :
a.       Perdarahan Post Partum Primer:
Perdarahan post partum primer adalah mencakup semua kejadian perdarahan dalam 24 jam setelah kelahiran.
Penyebab :
1)      Atonia uterus, yang dapat terjadi karena plasenta atau selaput ketuban tertahan.
2)      Trauma genita, yang meliputi penyebab spontan dan trauma akibat penatalaksanaan atau gangguan, misalnya kelahiran yang menggunakan peralatan termasuk sc dan episiotomy.
3)      Koagulasi Intravascular Diseminata.
4)      Inversi Uterus
b.      Perdarahan Post Partum Sekunder :
Perdarahan post partum sekunder adalah mencakup semua kejadian PPH yang terjadi antara 24 jam setelah kelahiran bayi dan 6 minggu masa post partum.
Penyebab :
1)      Fragmen plasenta atau selaput ketuban tertahan
2)      Pelepasan jaringan mati setelah persalinan macet ( dapat terjadi di serviks, vagina, kandung kemih, rectum )
3)      Terbukanya luka pada uterus (setelah sectio saesaria, ruptur uterus


Penatalaksanaan Perdarahan :
a.      Perdarahan Postpartum Primer
1)      Perdarahan Postpartum Atonia
a)      Pijat uterus agar berkontraksi dan keluarkan bekuan darah.
b)      Kaji kondisi pasien (denyut jantung, tekanan darah, warna kulit. Kesadaran, kontraksi uterus) dan perkiraan kehilangan darah yang sudah keluar. Jika pasien dalam kondisi syok, pastikan jalan nafas dalam kondisi terbuka, palingkan wajah kesalah satu sisi.
c)      Berikan oksitosin 10 IU intra vena dan ergometrin 0.5 intra vena. Berikan melalui IM apabila tidak bisa melalui IV.
d)      Siapkan donor untuk transfusi, ambil darah untuk kros cek, berikan Nacl 1 L/ 15 menit apabila pasien mengalami syok. ( pemberian infuse sampai sekitar 3 liter untuk menangani syok ), pada kasus syok yang parah gunakan plasma ekspander.
e)      Kandung kemih selalu dalam kondisi kosong.
f)        Awasi agar uterus tetap berkontraksi dengan baik. Tambakahkan 40 IU oksitosin dalam 1 L cairan infuse dengan tetesan 40 tetes permenit. Usahakan tetap menyusui bayinya.
g)      Jika perdarahan persisten dan uterus tetap relaks, lakukan kompresi bimanual.
h)      Jika perdarahan persiten dan uterus berkontraksi dengan baik, maka lakukan pemeriksaan pada vagina dan serviks untuk menentukan laserasi yang menyebabkan perdarahan tersebut.
i)        Jika ada infeksi bahwa mungkin terjadi infeksi yang diikuti dengan demam, menggigil, lochea berbau busuk, segera berikan antibiotic berspektrum luas.
j)        Lakukan pencatatan yang akurat.

Penatalaksanaan lanjut :
Pantau kondisi pasien secara seksama selama 24-48 jam, hal tersebut meliputi :
a)      Memeriksa bahwa uterus kenyal dan berkontraksi dengan baik.
b)      Darah yang hilang.
c)      Suhu
d)      Denyut nadi
e)      Tekanan darah
f)        Kondisi umum ( misal kepucatan, tingkat kesadaran ).
g)      Asupan cairan (setelah pasien stabil cairan IV harus diberikan rata – rata 1 liter dalam 6 sampai 8 jam ).
h)      Transfusi darah harus dipantau dan volume yang ditransfusikan harus dicatat sebagai asupan cairan.
i)        Pengeluaran urine.
j)        Membuat catatan yang akurat.
Hal yang harus diperhatikan :
a)      Jangan pernah tinggalkan pasien sendirian sampai perdarahan terkendali dan kondisi umum lainnya bagus.
b)      Pada kasus perdarahan postpartum atonia jangan pernah memasukkan pack vagina.
c)      Jika penolong berada di rumah, puskesmas tanpa fasilitas dan keterampilan uang diperlukan rujukan ke rumah sakit dengan fasilitas dan keterampilan yang memadai.

2)      Perdarahan Postpartum Traumatik
a)      Pastikan asal perdarahan, perineum (robekan atau luka episiotomi), vulva ( rupture varicosities, robekan atau hematoma ; hematoma mungkin tidak tampak dengan jelas tapi dapat menyebabkan nyeri dan syok ), vagina, serviks ( laserasi ), uterus ( rupture atau inversi uterus dapat terjadi dan disertai dengan nyeri dan syok yang jelas).
b)      Ambil darah untuk kros cek dan cek kadar hb
c)      Pasang infuse IV, Nacl atau RL jika pasien mengalami syok
d)      Pasien dalam posisi litotomi dan penerangan cukup
e)      Perkirakan darah yang hilang
f)        Periksa tekanan darah, denyut nadi, dan periksa kondisi umum.
g)      Jahit robekan
h)      Berikan antibiotic berspektrum luas
i)        Membuat catatan yang akurat

2.      Infeksi Masa Nifas
Beberapa bakteri dapat menyebabkan infeksi setelah persalinan.Infeksi masa nifas masih merupakan penyebab tertinggi AKI. Infeksi alat genitl merupakan komplikasi masa nifas. Infeksi yang meluas ke saluran urinari,payudara dan pembedahan merupakn penyebab terjadinya AKI tinggi. Gejala umum infeksi dapat dilihat dari temperatur atau suhu pembengkakan tatikardi dan malaise. Sedangkan gejala local dapat berupa uterus lembek,kemerahan dan rasa nyeri pada payudara atau adanya disuria.
Infeksi alat genital
Ibu berisiko terjadi infeksi post partum karena adanya luka pada bekas pelepasan plasenta,laserasi pada saluran genital termasuk episiotomi pada perineum,dinding vagina dan serviks,infeksi post seksio caesar kemungkinan yang terjadi. Infeksi masa nifas atau sepsis puerperalis adalah infeksi pada traktus genitalia yang terjadi pada setiap ketuban pecah (ruptur membran) atau persalinan dan 42 hari setelah persalinan atau abortus,dimana terdpat dua atau lebih dari hal-hal berikut:nyeri pelvik,demam 38.5 C atau lebih,rabas vagina yang abnormal,rabas vagina yang berbau busuk dan keterlambatan dalam kecepatan penurunan uterus.
·        Penyebab infeksi : bakteri endogen dan baketri eksogen.
·        Faktor predisposisi : nutrisi yang buruk,defisiensi zat besi,persalinan lama,ruptur membran,episiotomi,SC.
·        Gejala klinis endometritis tampak pada hari ke-3 post partum C dan tatikardi,sakit kepala,disertai dengan suhu yang mencapai 39 C kadang juga terdapat uterus yang lembek.
·        Manajemen: ibu harus diisolasi.

Macam-macam infeksi masa nifas:
1)      Endometritis
Jenis infeksi yang paling sering ialah endometritis. Kuman-kuman yang memasuki endometrium, biasanya melalui luka bekas insersio plasenta, dan dalam waktu singkat mengikutsertakan seluruh endometrium. Pada infeksi dengan kuman yang tidak terlalu patogen, radang terbatas pada endometrium.
Gambaran klinik tergantung jenis dan virulensi kuman, daya tahan penderita, serta derajat trauma pada jalan lahir. Biasanya demam mulai 48jam postpartum dan bersifat naik turun (remittens). His lebih nyeri dari biasa dan lebih lama dirasakan. Lokia bertambah banyak, berwarna merah atau cokelat, serta berbau. Lokia yang berbau tidak selalu menyertai endometritis sebagai gejala. Sering terdapat subinvolusi. Leukosit naik antara 15.000-30.000/mm3. Sakit kepala, kurang tidur, dan kurang nafsu makan dapat mengganggu penderita. Tanda dan gejala endometritis adalah sebagai berikut :
a)      Peningkatan demam secara persisten hingga 40ºC, bergantung pada keparahan infeksi.
b)      Takikardi.
c)      Menggigil dengan infeksi berat.
d)      Nyeri tekan uteri menyebar secara lateral.
e)      Nyeri panggul dengan pemeriksaan bimanual.
f)        Subinvolusi
g)      Lokia sedikit, tidak berbau, atau berbau tidak sedap, lokia seropurelenta.
h)      Variabel awitan bergantung pada organisme, dengan streptococcus grup B muncul lebih awal.
i)        Hitung sel darah putih mungkin meningkat di luar leukositosis puerperium fisiologis.
Penanganan dengan obat antimikroba spekrum-luas termasuk sefalosporin (misalnya: cefoxitin,cefotetan) dan penisilin spektrum-luas, atau inhibitor kombinasi penicillin/betalaktamase (augmentin, Unasyn). Kombinasi klindamisin dan gentamisin huga dapat digunakan, seperti metronidazol jika ibu tidak menyusui. Endometritis ringan dapat ditangani dengan terapi oral meskipun infeksi yang lebih serius memerlukan hospitalisasi untuk terapi intravena.
Penyebaran endometritis, jika tidak ditangani, dapat menyebabkan salpingitis, tromboflebitis septik, peritonitis, dan fasilitas nekrotikans. Setiap dugaan adanya infeksi memburuk, gejala yang tidak dapat dijelaskan, atau nyeri akut memerlukan konsultasi dokter dan rujukan.
Jika infeksi tidak meluas, maka suhu turun secara berangsur-angsur dan turun pada hari ke 7-10. Pasien sedapatnya diisolasi, tetapi bayi boleh terus menyusi poda ibunya. Untuk kelancaran pengaliran lokia, pasien boleh diletakkan dengan letak fowler dan diberi juga uterustonika. Selain itu, pasien juga disuruh minum banyak.
2)      Parametritis
Parametritis adalah infeksi jaringan pelvis yang dapat terjadi melalui beberapa cara: penyebaran melalui limfe dari luka serviks yang terinfeksi atau dari endometritis, penyebaran langsung dariluka pada serviks yang meluas sampai ke dasar ligamentum, serta penyebaran sekunder dari tromboflebitis. Proses ini dapat tinggal terbatas pada dasar ligamentum latum atau menyebar ekstraperitoneal ke semua jurursan.
Jika menjalar ke atas, dapat diraba pada dinding perut sebelah lateral di atas ligamentum inguinalis atau pada fossa iliaka. Parametritis ringan dapat meneybabkan suhu yang meninggi dalam nifas. Bila suhu tinggi menetap lebih dari seminggu disertai rasa nyeri di kiri atau kanan dan nyeri pada pemeriksaan dalam, hal ini patut dicurigai terhadap kemungkinan perametritis. Pada perkembangan proses peradangan lebih lanjut, gejala-gejala parametritis akan menjadi lebih jelas.
Pada pemeriksaan dalam dapat diraba tahanan padat dan nyeri disebelah uterus dan tahanan ini yang berhubungan erat dengan tulang panggul dapat meluas ke berbagai jruusan. Pada bagian tengah jaringan yang meradang tersebut dapat tumbuh abses. Dalam halo ini, suhu yang mula-mual tinggi secara menetap menjadi naik turun disertai dengan mengigil. Penderita tam[ak sakit, nadi cepat, dan perut nyeri. Pada  2/3 kasus tidak terjadi pembentuan abses dan suhu menurun dalam beberapa minggu. Tumor disebelah uterus mengecil sedikit dem sedikit akhirnya terdapat permetrium yang kaku. Jika terjadi abses, cairan abses selalu mencari jalan k erongga perut sehingga menyebabkan peritonitis, kerektum, atau ke kandung kemih.
3)      Peritonitis
Peritonitis dapat berasal dari penyebaran melalui pembuluh limfe uterus, paramtritis yang meluas ke peritoneum, salpingo-ooforitis meluas ke peritoneum atau langsung sewaktu tindakan per abdominal. Peritonitis yang terlokalisasi hanya dalam rongga pelvis disebut pelvioperitonitis, bila meluas ke seluruh rongga peritoneum disebut peritonitis umum, dan keadaan ini sangat berbahaya karena dapat menyebabkan kematian 33% dari seluruh kematian akibat infeksi.
Gambaran klinis dari peritonitis adalah sebagai berikut :
a)      Pelvioperitonitis : demam, nyeri perut bagian bawah, nyeri pada pemeriksaan dalam, kavum douglasi menonjol karena adanya abses(kadang-kadang). Bila hal ini dijumpai, maka nanah harus dikeluarkan dengan kolpotomi posterior, agar nanah tidak keluar menembus rektum.
b)      Peritonitis umum adalah berbahaya bila disebabkan oleh kuman yang patogen. Perut kembung, meteorismus, dan dapat terjadi paralitik ileus. Suhu badan tinggi, nadi cepat dan kecil, perut nyeri tekan, pucat, muka cekung, kulit dingin, mata cekung yang disebut muka hipokrates. Penegakan diagnosis dibantu dengan pemeriksaan laboratorium.
Pengobatan secara umum :
Sebaiknya segera dilakukan pembiakan (kultur), sekret vagina, luka operasi, darah, serta uji kepekaan untuk mendapatkan antibiotika yang teapt dalam pengobatan. Berikan dalam dosis yang cukup dan adekuat. Oleh karena pemeriksaan memerlukan waktu, maka berikan spektrum luas (broad spectrum) sementara menunggu hasil laboratorium. Pengobatan memepertinggi daya tahan tubuh penderita, infus atau transfusi darah diberikan, perawatan lainnya sesuai dengan komplikasi yang dijumpai.
3.      Sakit Kepala,Nyeri Epigastrik,Penglihatan Kabur
a)      Sakit kepala
Nyeri kepala pada masa nifas dapat merupakan gejala preeklampsia, jika tidak diatasi dapat menyebabkan kejang maternal, stroke,koagulopati dan kematian.
Sakit kepala yang menunjukkan suatu masalah yang serius adalah:
1)      Sakit kepala hebat
2)      Sakit kepala yang menetap
3)      Tidak hilang dengan istirahat
4)      Depresi post partum
      Kadang - kadang dengan sakit kepala yang hebat tersebut, ibu mungkin menemukan bahwa penglihatannya menjadi kabur atau berbayang. Sakit kepala yang hebat disebabkan karena terjadinya edema pada otak dan meningkatnya resistensi otak yang mempengaruhi Sistem Saraf Pusat, yang dapat menimbulkan kelainan serebral (nyeri kepala, kejang) dan gangguan penglihatan. 
Gejala :
1)      Tekanan darah naik atau turun
2)       Lemah
3)       Anemia
4)       Napas pendek atau cepat
5)      Nafsu makan turun
6)      Kemampuan berkonsentrasi kurang
7)      Tujuan dan minat terdahulu hilang; merasa kosong
8)      Kesepian yang tidak dapat digambarkan; merasa bahwa tidak seorang pun mengerti
9)      Serangan cemas
10)  Merasa takut
11)  Berpikir obsesi
12)  Hilangnya rasa takut
13)   Control terhadap emosi hilang
14)  Berpikir tentang kematian

Penanganan:
1. Lakukan penilaian klinik terhadap keadaan umum sambil mencari riwayat penyakit sekarang dan terdahulu dari pasien atau keluarga
2.    Pemberian  Parasetamol dan Vit B Complek 2x/hari, Tablet zat besi 1x/hari
3.     Jika tekanan diastol >110mmHg, berikan antihipertensi sampai tekanan diastolik
4.      Pasang infus RL dengan jarum besar no.16 atau lebih
5.      Ukur keseimbangan cairan
6.      Persiapan rujukan
7.      Periksa Hb
8.      Periksa protein urine
9.      Observasi tanda-tanda vital
10.   Lebih banyak istirahat

b)      Nyeri epigastrium
  Nyeri daerah epigastrium atau daerah kuadran atas kanan perut, dapat disertai dengan edema paru. Keluhan ini sering menimbulkan rasa khawatir pada penderita akan adanya gangguan pada organ vital di dalam dada seperti jantung, paru dan lain-lain.
  Preeklamsia ialah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, edema, dan proteinuria yang timbul karena kehamilan, umumnya terjadi pada triwulan ke-3 kehamilan. Sedangkan eklampsia merupakan penyakit lanjutan pre­eklamsia, yakni gejala di atas ditambah tanda gangguan saraf pusat, yakni terjadinya kejang hingga koma, nyeri frontal, gangguan penglihatan, mual hebat, nyeri epigastrium, dan           hiperrefleksia. Hipertensi biasanya timbul lebih dahulu daripada  tanda-tanda lain karena terjadi reimplantasi amnion ke dinding rahim pada trimester ke-3 kehamilan. Pada keadaan ibu yang tidak sehat atau asupan nutrisi yang kurang, reimplantasi tidak terjadi secara optimal sehingga menyebabkan blokade pembuluh darah setempat dan menimbulkan hipertensi. Diagnosis hipertensi dapat dibuat jika kenaikan tekanan sistolik 30 mmHg atau lebih di atas tekanan yang biasanya ditemukan atau mencapai 140 mmHg atau lebih, dan tekanan diastolik naik dengan 15 mmHg atau lebih atau menjadi 90 mmHg atau lebih. Penentuan tekanan darah ini dilakukan minimal 2 kali dengan jarak waktu 6 jam pada keadaan istirahat. Edema ialah penimbunan cairan secara umum dan berlebihan dalam jaringan tubuh, dan biasanya dapat diketahui dari kenaikan berat badan serta pembengkakan kaki, jari tangan, dan muka. Kenaikan 1 kg seminggu beberapa kali perlu me­nimbulkan kewaspadaan terhadap timbulnya preeklamsia. Edema juga terjadi karena proteinuria berarti konsentrasi protein dalam air kencing yang melebihi 0,3 g/liter dalam air kencing 24 jam atau pemeriksaan kualitatif menunjukkan 1+ atau 2+  atau 1g/liter atau lebih dalam air ken­cing yang dikeluarkan dengan kateter atau midstream yang diambil minimal 2 kali dengan jarak waktu 6 jam. Biasanya proteinuria timbul lebih lambat daripada hipertensi dan kenaikan berat badan, karena itu harus dianggap sebagai tanda yang cukup serius.

*     Tanda dan Gejala
1.      Kira-kira 90 persen pasien terdapat lelah,
2.       65 persen dengan nyeri epigastrium, 30 persen dengan mual dan muntah
3.      31 persen dengan sakit kepala.

*     Penanganan :
1.      Informed consent
2.      Mengobservasi TTV
3.      Persiapan rujukan
4.      Pemeriksaan darah rutin
5.      Tes fungsi hati.
6.      Profilaktik MgSO4 untuk mencegah kejang (eklampsia),
7.      Bolus 4 – 6 g MgSO4 dalam kon­sentrasi 20%. Dosis ini diikuti dengan infus 2 g per jam.
8.      Jika terjadi toksisitas, masukkan 10 – 20 ml kalsium glukonat 10%  i.v.
9.      Terapi antihipertensi harus dimulai jika tekanan darah senantiasa di atas 160/­110 mmHg → Hidralazin IV dosis rendah 2,5 – 5 mg (dosis inisial 5mg) setiap 15 – 20 menit sampai tekanan darah target tercapai atau kombinasi nifedipin dan MgSO4.
c)      Penglihatan kabur
Perubahan penglihatan atau pandangan kabur, dapat menjadi tanda preeklampsi. Masalah visual yang mengidentifikasikan keadaan yang mengancam jiwa adalah perubahan visual mendadak, misalnya penglihatan  kabur atau berbayang, melihat bintik-bintik (spot) , berkunang-kunang.
Selain itu adanya skotoma, diplopia dan ambiliopia merupakan tanda-tanda yang menunjukkan adanya pre-eklampsia berat yang mengarah pada eklampsia. Hal ini disebabkan adanya perubahan peredaran darah dalam pusat penglihatan di korteks cerebri atau didalam retina (edema retina dan spasme pembuluh darah). Perubahan penglihatan ini mungkin juga disertai dengan sakit kepala yang hebat.
Pada preeklamsia tampak edema retina, spasmus setempat atau menyeluruh pada satu atau beberapa arteri. Skotoma, diplopia, dan ambliopia pada penderita preeklamsia merupakan gejala yang menunjukkan akan terjadinya eklampsia. Keadaan ini disebabkan oleh perubahan aliran darah dalam pusat penglihatan di korteks serebri atau dalam retina. Perubahan pada metabolisme air dan elektrolit menyebabkan terjadinya pergeseran cairan dari ruang intravaskuler ke ruang interstisial. Kejadian ini akan diikuti dengan kenaikan hematokrit, peningkatan protein serum dan sering bertambahnya edema, menyebabkan volume darah berkurang, viskositas darah meningkat, waktu peredaran darah tepi lebih lama. Karena itu, aliran darah ke jaringan di berbagai bagian tubuh berkurang, dengan akibat hipoksia. Elektrolit, kristaloid, dan protein dalam serum tidak menunjukkan perubahan yang nyata pada preeklamsia. Konsentrasi kalium, natrium, kalsium, dan klorida dalam serum biasanya dalam batas-batas normal. Gula darah, bikarbonat dan pH pun normal. Kadar kreatinin dan ureum pada preeklamsia tidak meningkat, kecuali bila terjadi oliguria atau anuria. Protein serum total, perbandingan albumin globulin dan tekanan osmotic plasma menurun pada preeklamsia. Pada kehamilan cukup bulan kadar fibrinogen meningkat dengan nyata dan kadar tersebut lebih meningkat lagi pada preeklamsia.
*     Tanda dan Gejala :
1.      Peningkatan tekanan darah yang cepat
2.      Oliguria
3.      Peningkatan jumlah proteinuri
4.      Sakit kepala hebat dan persisten
5.      Rasa mengantuk
6.      Penglihatan kabur
7.      Mual muntah
8.      Nyeri epigastrium
9.      Hiperfleksi

*     Faktor resiko :
1.         Primigravida
2.         Wanita gemuk
3.         Wanita dengan hipertensi esensial
4.         Wanita dengan kehamilan kembar
5.         Wanita dengan diabetes, mola hidatidosa, polihidramnion
6.         Wanita dengan riwayat eklamsia atau preeklamsia pada kehamilan sebelumnya
7.         Riwayat keluarga eklamsi

*     Peran Bidan :
1.      Mendeteksi terjadinya eklamsi
2.      Mencegah terjadinya eklamsi
3.      Mengetahui kapan waktu berkolaborasi dengan dokter
4.      Memberikan penanganan awal sebelum merujuk pada kasus eklamsi




4.      Pembengkakan Di  Wajah Atau Ekstermitas
Pembengkakan wajah dan ektremitas atau yang sering disebut dengan udem sering ditemukan pada wanita hamil ataupun nifas. Baik karena perubahan fisiologis maupun perubahan yang patologis.
Udem adalah tertimbunnya cairan dalam jaringan , akibat adanya gannguan keseimbangan. Udem dapat terjadi oleh :
a)      Adanya tekanan hidrostatik yang sangat tinggi pada pembuluh kapiler seperti misalnya bila aliran darah vena tersumbat
b)      Tekanan osmotik terlalu rendah, karena kadar protein plasma, terutama albumin sangat rendah
c)       Sumbatan pada aliran limfe
d)      Kerusakan dinding kapiler sehingga plasma dapat merembes keluar dan masuk ke dalam jaringan serta menimbulkan tekanan osmotik yang melawan tekanan osmotik protein dalam aliran darah
Udem juga terlihat pada adanya trombosis pada vena – vena betis yang terletak dalam, biasanya merupakan komplikasi berbahaya akibat berbaring yang terlalu lama, yang menyebabkan aliran dalam darah vena menjadi lambat sehinga membeku. Trombosis seperti ini terjadi akibat infeksi.
Keadaan pembengkakan wajah dan ekstremitas, sering menyertai kelainan – kelainan pada masa nifas, sebagai berikut
1)      Eklamsi Postpartum
Selain pembengkakan wajah dan ekstremitas, adapun gejala – gejala yang sering menyertai eklamsi postpartum adalah
a)      Peningkatan tekanan darah, diastolic > 90 mmHg
b)      Oluguria
c)       Peningkatan jumlah proteinuri ( karena vasospasme akut )
d)      Sakit kepala berat dan persisten
e)      Rasa mengantuk
f)        Penglihatan kabur
g)      Mual muntah
h)      Nyeri epigastrik
i)        Hiperefleksi

Faktor resiko :
a)      Primigravida
b)       Wanita dengan hipertensi esensial
c)      Wanita dengan kehamilan kembar
d)      Wanita dengan diabetes, mola hidatidosa, polihidramnion
e)      Wanita dengan riwayat eklamsia atau preeklamsia pada kehamilan sebelumnya
f)        Riwayat keluarga eklamsi

Peran Bidan :
a)      Mendeteksi terjadinya eklamsi
b)      Mencegah terjadinya eklamsi
c)      Mengetahui kapan waktu berkolaborasi dengan dokter
d)      Memberikan penanganan awal sebelum merujuk pada kasus eklamsi

2)      Syndrom Nefrotik
Syndrom nefrotik adalah suatu spektrum penyakit ginjal yang penyebabnya beragam. Pada gambaran mikroskopis ginjal, terdapat kelainan pada sawar dinding kapiler glomerulus, yang menyebabkan filtrasi protein plasma yang berlebihan.
Gejala yang menyertai syndrom nefrotik ini selain dari pembengkakan wajah dan ekstremitas antara lain :
1)      Proteinuria > 3 gr/hari
2)      Hipoalbuminemia
3)      Hiperlipidemia


5.      Demam,Muntah,Rasa Sakit Waktu Berkemih
Organisme yang menyebabkan infeksi saluran kemih berasal dari flora normal perineum. Sekarang terdapat bukti bahwa beberapa galur Escherichia coli memiliki vili yang meningkatkan virulensinya.(Svanborg-Eden,1982).
Pada masa nifas dini, sentivitas kandung kemih terhadap tegangan air kemih didalam vesika sering menurun akibat trauma persalinan. Serta analgesia epidural atau spinal sensasi peregangan kandung kemih juga mungkin berkurang akibat rasa tidak nyaman yang ditimbulkan oleh episiotomy yang lebar, laserasi periuretra, atau hematom dinding vagina. Setelah melahirkan terutama saat infuse oksitosin dihentikan terjadi diuresis yang disertai peningkatan produksi urin dan distensi kandungkemih. Overdistensi yang disertai kateterisasi untuk mengeluarkan air kemih sering menyebabkan infeksi saluran kemih.
Infeksi saluran kemih (sistitis)
Sistitis adalah istilah medis untuk peradangan kandung kemih. Sebagian besar waktu, peradangan disebabkan oleh infeksi bakteri, dan itu disebut infeksi saluran kemih. Infeksi kandung kemih dapat menyakitkan dan mengganggu, dan dapat menjadi masalah kesehatan yang serius jika       infeksi   menyebar         ke        ginjal.
Jarang terjadi, sistitis dapat muncul sebagai reaksi terhadap obat-obatan tertentu, terapi radiasi atau iritasi potensial, seperti semprotan kebersihan, jeli spermisida atau penggunaan kateter jangka panjang. Sistitis juga dapat terjadi akibat komplikasi dari penyakit lain. Pengobatan umum untuk bakteri sistitis adalah antibiotik. Pengobatan untuk jenis sistitis lain tergantung pada penyebab yang mendasarinya.
Gejala:
Infeksi kandung kemih biasanya menyebabkan desakan untuk berkemih dan rasa terbakar atau nyeri selama berkemih. Nyeri biasanya dirasakan diatas tulang kemaluan dan sering juga dirasakan di punggung sebelah bawah. Gejala lainnya adalah nokturia (sering berkemih di malam hari). Air kemih tampak berawan dan mengandung darah.
Kadang infeksi kandung kemih tidak menimbulkan gejala dan diketahui pada saat pemeriksaan air kemih (urinalisis untuk alasan lain.) Sistitis tanpa gejala terutama sering terjadi pada usia lanjut, yang bisa menderita inkontinensia uri sebagai akibatnya.
Tanda-tanda dan gejala sistitis sering termasuk:
a)      Dorongan yang kuat untuk buang air kecil terus-menerus
b)      Terasa terbakar ketika buang air kecil
c)      Darah dalam urin (hematuria)
d)      Ketidaknyamanan di daerah panggul
e)      Perasaan tekanan di perut bagian bawah
f)        Demam ringan
Pengobatan Gejala Infeksi Saluran Kemih ( ISK ) - Penyebab Infeksi Kandung Kemih ( Sistitis ) Pada Pria dan Wanita


Penyebab
Bakteri dari vagina bisa berpindah dari uretra ke kandung kemih. Wanita sering menderita infeksi kandung kemih setelah melakukan hubungan seksual, kemungkinan karena uretra mengalami cedera pada saat melakukan hubungan seksual. Kadang infeksi kandung kemih berulang pada wanita terjadi karena adanya hubungan abnormal antara kandung kemih dan vagina (fistula vesikovaginal).
Infeksi kandung kemih jarang terjadi pada pria dan biasanya berawal sebagai infeksi uretra yang bergerak menuju prostat lalu ke kandung kemih. Selain itu, infeksi kandung kemih bisa terjadi akibat pemasangan kateter atau alat yang digunakan selama pembedahan. Penyebab tersering dari infeksi kandung kemih berulang pada pria adalah infeksi prostat karena bakteri yang bersifat menetap. Antibiotik dengan segera akan melenyapkan bakteri dari air kemih di dalam kandung kemih, tetapi antibiotik tidak dapat menembus prostat dengan baik sehingga tidak dapat meredakan infeksi di dalam prostat. Karena itu, jika pemakaian antibiotik dihentikan, maka bakteri yang berada di dalam prostat akan cenderung kembali menginfeksi kandung kemih.
Hubungan abnormal antara kandung kemih dan usus (fistula vesikoenterik) kadang menyebabkan bakteri pembentuk gas masuk dan tumbuh di dalam kandung kemih. Infeksi ini bisa menyebabkan timbulnya gelembung-gelembung udara di dalam air kemih (pneumaturia).

Pengobatan:
Pada usia lanjut, infeksi tanpa gejala biasanya tidak memerlukan pengobatan. Untuk sistitis ringan, langkah pertama yang bisa dilakukan adalah minum banyak cairan. Aksi pembilasan ini akan membuang banyak bakteri dari tubuh, bakteri yang tersisa akan dilenyapkan oleh pertahanan     alami    tubuh.
Pemberian antibiotik per-oral (tablet, kapsul, sirup) selama 3 hari atau dosis tunggal biasanya efektif, selama belum timbul komplikasi. Jika infeksinya kebal, biasanya antibiotik diberikan selama 7-10 hari. Untuk meringankan kejang otot bisa diberikan atropin. Untuk mengurangi nyeri bisa diberikan fenazopiridin. Gejalanya seringkali bisa dikurangi dengan membuat suasana air kemih menjadi basa, yaitu dengan meminum baking soda yang dilarutkan dalam air.
Pembedahan dilakukan untuk mengatasi penyumbatan pada aliran kemih (uropati obstruktif) atau untuk memperbaiki kelainan struktur yang menyebabkan infeksi lebih mudah terjadi. Biasanya sebelum pembedahan diberikan antibiotik untuk mengurangi resiko penyebaran infeksi ke seluruh tubuh.

Pencegahan
Penyakit Infeksi saluran kemih ini dapat dicegah dengan cara menjaga kebersihan daerah sekitar genetalia, jangan terlalu sering menahan untuk BAK, dan usahakan untuk lebih banyak minum air putih yakni minimal 8 gelas perhari. Hal-hal tersebut tentunya mudah untuk kita terapkan sehari-hari sebelum penyakit infeksi saluran kemih ini menyerang kita.
Sebagai tindakan pencegahan pada penderita yang telah mengalami sistitis lebih dari 2 kali, antibiotik bisa terus diberikan dalam dosis rendah. Antibiotik bisa diberikan setiap hari, 3 kali/minggu atau segera setelah melakukan hubungan seksual.

6.      Kehilangan Nafsu Makan Dalam Waktu Yang Lama
Sesudah anak lahir ibu akan merasa lelah mungkin juga lemas karena kehabisan tenaga. Hendaknya lekas berikan minuman hangat ,susu,kopi atau teh yang bergula. Apabila ibu menghendaki makanan, berikanlahmakanan yang sifatnya ringan walaupun dalam persalinan lambung dan alat pencernaan tidak langsung turut mengadakan proses persalinan, tetapi sedikit banyak pasti di pengaruhi proses persalinan tersebut. Sehingga alat pencernaan perlu guna memulihkan keadaan kembali. Oleh karena itu tidak benar bila ibu di berikan makanan sebanyak – banyaknya walaupun ibu menginginkannya. Tetapi biasanya disebabkan adanya kelelahan yang amat berat, nafsu makan pun akan terganggu, sehingga ibu tidak ingin makan sampai kelelahan itu hilang.

7.      Rasa Sakit, Merah, Lunak, Dan Pembengkakan Dikaki (Thrombopeblitis)
Selama masa nifas, dapat terbentuk thrombus sementara vena-vena maupun di pelvis yang mengalami dilatasi, dan mungkin lebih sering mengalaminya.
Factor predisposisi :
a)      Obesitas
b)      Peningkatan umur maternal dan tingginya paritas
c)      Riwayat sebelumnya mendukung
d)      Anestesi dan pembedahan dengan kemungkinan trauma yang lama pada keadaan pembuluh vena
e)      Anemia maternal
f)        Hipotermi atau penyakit jantung
g)      Endometritis
h)      Varicostitis
Manifestasi :
a)      Timbul secara akut
b)      Timbul rasa nyeri akibat terbakar
c)      Nyeritekanpermukaan

8.      Merasa Sedih Atau Tidak Mampu Mengasuh Sendiri Bayinya Dan Dirinya Sendiri
Pada minggu – minggu awal setelah persalinan sampai kurang lebih 1 tahun ibu postpartum cenderung akan mengalami perasaan perasaan yang tidak pada umumnya, seperti merasa sedih, tidak mampu mengasuh dirinya sendiri atau bayinya.
Factor penyebab :
a)      Kekecewaaan emosional yang mengikuti kegiatan bercampur rasa takut yang di alami kebanyakan wanita selama hamil dan melahirkan
b)      Rasa nyeri pada awal masa nifas
c)      Kelelahan akibat kurang tidur selama persalinan dan telah melahirkan kebanyakan dirumah sakit
d)      Kecemasanakan kemampuannya untuk merawat bayinya setelah meninggalkan rumah sakit.
e)      Ketakutanakan menjadi tidak menarik lagi.

Macam-macam depresi pada masa nifas:
a.      Postpartum Blues
Ada kalanya ibu mengalami perasaan sedih yang berkaitan dengan bayinya. Keadaan ini disebut dengan baby blues, yang disebabkan pleh perubahan perasaan yang dialami ibu saat hamil sehingga sulit menerima kehadiran bayinya. Perubahan perasaan ini merupakan respon aami terhadap rasa lelah yang dirasakan. Selain itu, juga karena perubahan fisik dan emosional selama beberapa bulan kehamilan. Disini hormone memainkan peranan utama dalam hal bagaimana ibu bereaksi terhadap situasi yang berbeda. Setelah melahirkan dan lepasnya plasenta dari dinding rahim, tubuh ibu mengalami perubahan besar dalam jumlah hormon sehingga membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri. Disamping perubahan fisik, hadirnya seorang bayi dapat membuat perbedaan besar dalam kehidupan ibudalam hubungannya dengan suami, orang tua, maupun anggota keluarga lain. Perubahan ini akan kembali secara perlahan setelah ibu menyesuaikan diri dengan peranan barunya dan umbuh kembali dalam keadaan normal.
Postpartum blues merupakan kesedihan atau kemurungan setelah melahirkan, biasanya hanya muncul sementara waktu yakni sekitar dua hari hingga dua minggu sejak kelahiran bayi. Beberapa penyesuaian dibutuhkan oleh wanita dalam menghadapi aktivitas dan peran barunya sebagai ibu pada minggu-minggu atau bulan-bulan pertama setelah melahirkan, baik dari segi fisik maupun segi psikologis. Sebagian wanita berhasil menyesuaikan diri dengan baik, tetapi sebagian lainnya tidak berhasil menyesuaikan diri dan mengalami gangguan-gangguan psikologis, salah satunya yang disebut Postpartum Blues.
Penyebab dan Gejala Postpartum Blues
a)      Penyebab Postpartum Blues
Beberapa penyebab Postpartum blues diantaranya:
1)      Perubahan hormon.
2)      Stress.
3)      ASI tidak keluar.
4)      Frustasi karena bayi tidak mau tidur, nangis dan gumoh.
5)      Kelelahan pasca melahirkan, dan sakitnya akibat operasi.
6)      Suami yang tidak membantu, tidak mau mengerti perasaan istri maupun persoalan lainnya dengan suami.
7)      Problem dengan Orangtua dan Mertua.
8)      Takut kehilangan bayi.
9)      Sendirian mengurus bayi, tidak ada yang membantu.
10)  Takut untuk memulai hubungan suami istri, anak akan terganggu.
11)  Bayi sakit (kuning, dll).
12)  Rasa bosan si Ibu.
13)  Problem dengan si Sulung.
b)      Gejala Postpartum Blues
Beberapa gejala yang timbul pada klien yang mengalami Postpartum Blues diantaranya:
1)      Cemas tanpa sebab.
2)      Menangis tanpa sebab.
3)      Tidak sabar.
4)      Tidak percaya diri.
5)      Sensitive.
6)      Mudah tersinggung.
7)      Merasa kurang menyayangi bayinya.
8)      Jika Postpartum Blues ini dianggap enteng, keadaan ini bisa serius dan bisa bertahan dua minggu sampai satu tahun dan akan berlanjut menjadi Postpartum Sindrome.
Masalah pada Postpartum Blues
Beberapa masalah yang dapat timbul pada klien yang mengalami Postpartum Blues diantaranya:
a)      Menangis dan ditambah ketakutan tidak bisa memberi ASI
b)      Frustasi karena anak tidak mau tidur
c)      Ibu merasa lelah, migrain dan cenderung sensitive
d)      Merasa sebal terhadap suami
e)      Masalah dalam menghadapi omongan ibu mertua
f)        Menangis dan takut apabila bayinya meninggal
g)      Menahan rasa rindu dan merasa jauh dari suami
h)      Menghabiskan waktu bersama bayi yang terus menerus menangis sehingga membuat ibu frustasi
i)        Perilaku anak semakin nakal sehingga ibu menjadi stress
j)        Adanya persoalan  dengan suami
k)      Stress bila bayinya kuning
l)        Adanya masalah dengan ibu
m)    Terganggunya tidur ibu pada malam hari karena bayinya menangis
n)      Jika ibu mengalami luka operasi ,yang rasa sakitnya menambah masalah bagi ibu
o)      Setiap kegiatan ibu menjadi terbatas karena hadirnya seorang bayi
p)      Takut melakukan hubungan suami isteri karena takut menggangu bayi
q)      Kebanyakan para ibu baru ingin pulang kerumah orang tuanya dan berada didekat ibunya
Penanganan Postpartum Blues
Dalam fase menjalani adaptasi setelah melahirkan, ibu akan mengalami fase-fase sebagai berikut:
a)      Fase taking in yaitu periode ketergantungan yang berlangsung pada hari pertama sampai hari kedua setelah melahirkan.pada saat itu focus  perhatian ibu terutama pada dirinya sendiri. Pengalaman selama proses persalinan sering berulang diceritakannya.hal ini membuat cenderung ibu menjadi pasif terhadap lingkungannya.
b)      Fase taking hold yaitu periode yang berlangsung antara 3-10 hari setelah melahirkan. Pada fase ini ibu merasa khawatir akan ketidakmampuannya dan rasa tanggung jawabnya dalam merawat bayi. Pada fase ini ibu memerlukan dukungan karena saat ini merupakan kesempatan yang baik untuk menerima berbagai penyuluhan dalam merawat diri dan bayinya sehingga timbul percaya diri.
c)      Fase letting go merupakan fase menerima tanggung jawab akan peran barunya yang berlangsung sepuluh hari setelah melahirkan. Ibu sudah dapat menyusuaikan diri, merawat diri dan bayinya sudah meningkat.
Cara mengatasi gangguan psikologi pada nifas dengan postpartum blues ada dua cara yaitu:
a)      Dengan cara pendekatan komunikasi terapeutik
Tujuan dari komunikasi terapeutik ini adalah menciptakan hubungan baik antara bidan  dengan pasien dalam rangka kesembuhannya dengan cara:
1)      Mendorong pasien mampu meredakan segala ketegangan emosi
2)      Dapat memahami dirinya
3)      Dapat mendukung tibdakan konstruktif.
b)      Dengan cara peningkatan support mental yang dapat dilakukan keluarga diantaranya:
1)      Sekali-kali ibu meminta suami untuk membantu dalam mengerjakan pekerjaan rumah seperti : membantu mengurus bayinya, memasak, menyiapkan susu dan lain lain.
2)      Memanggil orangtua ibu bayi agar bisa memahami ibu dalam menghadapi kesibukan dalam merawat bayi
3)      Suami seharusnya tahu permasalahan yang dihadapi istrinya dan lebih perhatian terhadap istrinya.
4)      Menyiapkan mental dalam menghadapi anak pertama yang akan lahir.
5)      Memperbanyak dukungan dari suami
6)      Suami menggantikan peran istrinya ketika istri kelelahan
7)      Ibu dianjurkan sering sharing dengan teman-temannya yang baru saja melahirkan.
8)      Bayi menggunakan pempers untuk meringankan kerja ibu
9)      Mengganti suasana, dengan bersosialisasi
10)  Suami sering menemani istri dalam mengurus bayinya
Selain hal diatas, penanganan pada klien postpartum blues pun dapat dilakukan pada diri klien sendiri, diantaranya dengan cara:
1)      Belajar tenang dengan menarik nafas panjang dan meditasi
2)      Tidurlah ketika bayi tidur
3)      Berolahraga ringan
4)      Ikhlas dan tulus dengan peran baru sebagai ibu
5)      Tidak perfeksionis dalam hal mengurus bayi
6)      Bicarakan rasa cemas dan komunikasikan
7)      Bersikap fleksibel
8)      Kesempatan merawat bayi hanya datang 1x
9)      Bergabung dengan kelompok ibu
Pencegahan postpartum blues
Berikut ini beberapa kiat mungkin dapat mengurangi  resiko postpartum  blues yaitu:
a)      Pelajari diri sendiri
Pelajari dan mencari informasi mengenai postpartum blues, sehingga ibu sadar terhadap kondisi ini. Apabila terjadi, ibu akan segera mendaapatkan bantuan secepatnya.
b)      Tidur dan makan yang cukup
Diet nutrisi cukup penting untuk kesehatan, lakukan usaha yang terbaik dengan makan dan tidur yang cukup. Keduanya penting selama periode postpartum dan kehamilan.
c)      Olahraga
Olahraga adalah kunci untuk mengurangi postpartum. Lakukan peregangan selama 15 menit dengan berjalan setiap hari, sehingga membuat ibu merasa lebih baik dan menguasai emosi berlebihan dalam diri ibu.
d)      Hindari perubahan hidup sebelum atau sesudah melahirkan
Jika memungkinkan, hindari membuat keputusan besar seperti membeli rumah atau pindah kerja, sebelum atau setelah melahirkan. Tetaplah hidup secara sederhana dan menghindari stress, sehingga dapat segera dan lebih mudah menyembuhkan postpartum yang diderita.
e)      Beritahukan perasaan
Jangan takut untuk berbicara dan mengekspresikan perasaan yang ibu inginkan dan butuhkan demi kenyamanan ibu sendiri. Jika memiliki masalah dan merasa tidak nyaman terhadap sesuatu, segera beritahukan pada pasangan atau orang terdekat.
f)        Dukungan keluarga dan orang lain diperlukan
Dukungan dari keluarga atau orang yang ibu cintai selama melahirkan, sangat diperlukan. Ceritakan pada pasangan atau orang tua ibu, atau siapa saja yang bersedia menjadi pendengar yang baik. Yakinkan diri ibu, bahwa meereka akan selalu berada disini ibu setiap mengalami kesulitan.
g)      Persiapan diri dengan baik
Persiapan sebelum melahirkan sangat diperlukan.
h)      Senam hamil
Kelas senam hamil akan sangat membantu ibu dalam mengetahui berbagai informasi yang diperlukan, sehingga nantinya ibu tak akan terkejut setelah keluar dari kamar bersalin. Jika ibu tau apa yang diinginkan, pengalaman traumatis saat melahirkan akan dapat dihindari.
i)        Lakukan pekerjaaan rumah tangga
Pekerjaan rumah tangga sedikitnya dapat membantu ibu melupakan golokan perasaan yang terjadi selama terjadi postpartum. Kondisi ibu yang belum stabil, bisa ibu curahkan dengan memasak ataau membersihakn rumah. Mintalah dukungan dari keluarga dan lingkungan ibu, meski pembantu rumah tangga ibu telah melakukan segalanya.
j)        Dukungan emosional
Dukungan emosi dari lingkungan dan juga keluarga, akan membantu ibu dalam mengatasi rasa frustasi yang menjalar. Ceritakan kepada mereka bagaimana perasaan serta perubahan kehidupan ibu, hingga ibu merasa lebih setelahnya.
k)      Dukungan kelompok Postpartum blues
Dukungan terbaik datang dari orang-orang yang ikut mengalami dan merasakan hal yang sama dengan ibu. Carilah informasi mengenai adanya kelompok postpartum blues yang bisa ibu ikuti, sehingga ibu tidak merasa sendirian menghadapi persoalan ini.
Asuhan Pada Post Partum Blues
Konseling yang dapat diberikan sebagai asuhan terhadap klien dengan postpartum blues diantaranya:
a)      Memberitahukan pada klien untuk menyadari bahwa dirinya bukanlah ibu yang buruk. Bukan salah klien memiliki pemikiran atau perasaan yang berlebihan pada postpartum.
b)      Memberitahu klien untuk memperlakukan dirinya dengan baik dengan cara:
1)      Makan makanan bergizi (hindari alkohol daan kafein)
2)      Banyak istirahat dan tidur
3)      Pergi kelur untuk mendapat cahaya matahari
4)      Berlatih secara rutin (berjalan selama 20 menit atau lebih)
5)      Menyediakan waktu untuk diri sendiri (untuk sejenak menghindari tugas-tugas dan urusan bayi)
6)      Melewatkan waktu bersaama keluarga dan teman-teman
c)      Anjurkan klien untuk memberitahu teman yang terpercaya mengenai    perasaan yang dirasakan, khususnya bila muncul kekhawatiran akan menyakiti diri sendiri atau bayi anda.
d)      Bila perlu, anjurkan klien untuk berkonsultasi dengan dokter tentang terapis dan kelompok  pendukung yang dapat menolong. Bahkan lebih baik lagi untuk menemui dokter spesialis kesehatan mental untuk meminta resep obat atau psikolog untuk berkonsultasi.

b.      Depresi Pospartum (Depresi Setelah Melahirkan)
Menurut sudarso (1997), kecenderungan adalah hasrat, keinginan yang selalu timbul berulang-ulang. Sedangkan ansari (1996), berpendapat bahwa kecenderungan  merupakan susunan atau disposisi untuk berkelakuan dalam car yang benar.
Haplin (1995), mengartikan kecenderungan merupakan susunan  sebagai suatu set  atau satu susunan sikap untuk bertingkah laku dengan car tertentu. Soekanto (1993), menyatakan kecenderungan merupakan suatu dorongan yang muncul dari dalam individu secara inharen menuju suatu arah tertentu untuk menunjukan  suka atau tidak suka kepada suatu objek.
Manusia dalam kehidupannya tidak terlepas dari berbagai permasalahan, baik yang tergolong sederhana sampai yang kompleks. Semua itu membutuhkan kesiapan mental untuk menghadapinya. Pada kenyataannya terdapat gangguan mental yang sangat menggangu dalam hidu manusia, yang salah satunya adalah depresi. Gangguan mental emosional ini bias terjadi pada siapa saja, kapan saja, dari kelompok mana saja, dan pada segala rentang usia. Bagi penderita depresi ini selalu dibayangi ketakutan, kengerian, ketidakbahagian serta kebencian pada mereka sendiri. Hadi (2004), menyatakan secara sederhanana dapat dikatakan bahwa depresi adalah suatu pengalaman yang menyakitkan suatu perasaan tidak ada harapan lagi.
Kartono (2002) menyatakan bahwa depresi adalah keadaan patah hati atau putus asa yang disertai dengan melemahnya kepekaan terhadap stimulus tertentu, pengurangan aktivitas fisik maupun mental dan kesulitan dalam berfikir, lebih lanjut kartono menejelaskan bahwa gangguan depresi disertai dengan kecemasan, kegelisahan dan keresahan, perasaan bersalah, perasaaan menurunnya martabat diri atau kecenderungan bunuh diri.
Trisna (Hadi 2004), menyimpulkan bahwa depresi adalah suatu perasaan sendu atau sedih yang biasanya disertai dengan diperlambatnya sedikit gerak dan fungsi tubuh. Mulai dari perasaan murung sedikit sampai pada keadaan tidak berdaya. Individu yakin tidak melakukan apapun untuk mengubahnya dan merasa bahwa resspon apa pun yang dilakukan tidak akan berpengaruh pada hasil yang muncul.
Individu yang mengalami depresi sering merasa dirinya tidak berharga dan merasa bersalah. Mereka tidak mampu memusatkan pikirannya dan tidak dapat membuat keputusan. Individu yang merasakan deprsi akan menyalahkan diri sendiri, merasakan kesedihan yang mendalam dan rasa putus asa tanpa sebab. Mereka mempersiapkan diri sendiri dan seluruh alam dunia dalam suasana yang gelap dan suram. Pandangan suram ini menciptakan perasaan tanpa harpan dan ketidakberdayaan yang berkelanjutan (Albin, 1991).
Depresi menurut Kaplan dan sadock (1998), merupkan suatu masalah terganggunya fungsi manusia yang berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan pada pola tidur, Nafsu  makan, psikomotorkonsentrasi, anheddonia, kelelahan, rasa putus asa dan tidak berddaya, serta gagasan bunuh diri.
Sebagian perempuan menganggap  bahwa masa-masa setelah persalinan adalah masa-masa sulit yang akan menyebabkan mereka mengalami tekanan secara emosional. Gangguan gangguan psikologis yang muncul akan mengurangi kebahagiaan yang dirasakan, dan sedikit banyak mempengaruhi hubungan anak dan ibu kemudian hari. Hal ini bias muncul dalam durasi yang sangat singkat atau berupa serangan yang sangat berat selama berbulan-bulan atau bertahum-tahun lamanya.
Secara umum sebagian besar wanita mengalami gangguan emosional setelah melahirkan. Clydee (regina dkk, 2001), bentuk gangguan postpartum yang umum adalah depresi, mudah marah, dan terutama mudah frustasi serta emosional.

Faktor-Faktor Penyebab Depresi Postpartum
Pitt ( regina dkk 2001), mengemukakan 4 faktor penyebab depresi postpartum sebagai berikut.
a)      Faktor konstitusional gangguan post partu yang berkaitan dengna status paritas adalah  riwayat obstetric pasien yang meliputi riwayat hamil sampai sampai bersalin serta apakah ada komplikasi dari kehamilan dan persalinan sebelumnya dan terjadi lebih banyak pada wanita primipara . Wanita primipara lebih umum menderita blues karena  setelah melahirkan wanita primipara  berate dalam proses  adaptasi , kalau dulu hanya memikirkan diri sendiri begitu bayi lahir ika ibutidak paham perannya ia akan menjadi bingung sementara bayinya harus tetap dirawat.
b)      Faktor fisik. Perubahan fisik setelah melahirkan dan memuncaknya gangguan mental selama 2 minggu pertama menunjukan bahwa factor penting. Perubahan hormonal secara drastic setelah melahirkan dan periode laten selama dua hari diantara kelahiran dan munculnya gejala. Perubahan ini sangat berpengaruh  pada keseimbangan. Kadang progesterone naik dan esterogen  yang menurun secara cepat setelah melahirkan merupakan factor penyebab yang sudah pasti.
c)      Faktor psikologis. Peralihan yang cepat dari keadaan “dua dalam satu” pada akhir kehamilan menjadi dua individu yaitu ibu dan anak bergantung pada penyesuaian psikologis individu. Klaus dan kennel (regina dkk, 2001), menidentifikasikan pentingnya cinta dalam menanggulangi masa peralihan ini untuk memulai hubungan baik antara ibu dan anak.
d)      Faktor sosial. Paykel (regina dkk 2001) mengemukakan bahwa pemukiman yang tidak memadai lebih sering menimbulkan depresi pada ibu-ibu, selain kurangnya dukungan dalam perkawinan.
Menurut kruckman (yanita dan zamaralita , 2001) menyatakan terjadinya depresi  dipengaruhi oleh faktor :
a)      Biologis. Faktor biologis dijelaskan bahwa depresi postpartum sebagai akibat kadar hormone seperti estrogen, progesterone dan prolaktin yang terlalu tinggi atau terlalu rendah dalam masa nifas atau mungkin perubahan hormone  tersebut terlalu cepat atau terlalu lambar.
b)      Karakteristik ibu , yang meliputi:
1)      Faktor umur. Sebagian besar masyarakat percaya bahwa saat yang tepat bagi seseorang  perempuan untuk melahirkan pada usia  antara 20-30 tahun, dan hal ini mendukung masalah periode yang optimal bagi bagi perawatan bayi oleh seorang ibu.
2)      Faktor pengalaman. Beberapa penetian diantaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh paykel dan inwood (regina dkk, 2001) mengatakan bahwa depresi pasca salin ini lebih banyak  ditemukan pada perempuan primipara, mengingat bahwa peran seorang ibu dan segala yang berkaitan dengan bayinya merupakan situasi yang sama sekali baru bagi dirinya dan dapat mnimbulkan stress. Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Le Masters yang melibatkan suami istri mida dari kelas social menengah mengajukan hipotesis  bahwa 83% dari mereka mengalami krisis setelah melahirkan bayi pertama.
3)      Faktor pendidikan. Perempuan yang berpendidikan tinggi menghadapi tekanan sosial dan konflik peran, antara tuntutan sebagai perempuan yang memiliki dorongan untuk bekerja atau aktivitasnya di luar rumah, dengan pern mereka sebagai ibu rumah tanggga dan orang tua dari anak-anak mereka (Kartono, 1992)
4)      Faktor selama proses persalinan. Hal yang mencakup lamanya persalinan, serta infestasi medis yang digunakan selama proses persalinan. Diduga semakin besar trauma fisik yang ditimbulkan pada saat persalinan, maka akan semakin besar pula trauma psikis yang muncul dan kemungkinan perempuan yang bersangkutan akan menghadapi depresi pascasalin.
5)      Faktor dukungan social. Banyaknya kerabat yang membantu pada saat kehamilan, persalinan dan pascasalin, beban seorang ibu karena kehamilannya sedikit banyak berkurang.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa faktor penyebab depresi postpartum adalah faktor konstitusional, faktor fisik yang terjadi karena adanya ketidakseimbangan hormonal, faktor psikologi, faktor sosial dan karakteristik ibu.

Gejala –Gejala depresi postpartum
a)      Mimpi buruk. Biasanya terjadi sewaktu tidur REM. Berupa mimpi-mimpi yang menakutkan, individu yang sering terbangun sehingga dapat mengakibatkan insomnia.
b)      Insomnia. Biasanya timbul sebagai gejala suatu gangguan lain yang mendasarinya seperti kecemasan dan depresi atau gangguan emosi lain yang terjadi dalam hidup manusia.
c)      Phobia. Rasa takut yang irasional terhadap sesuatu benda atau keadaan yang tidak dapat dihilangkan atau ditekan oleh pasien, biarpun diketahuinya bahwa hal itu irasional adanya. Ibu yang melahirkan dengan bedah Caesar sering merakan kembali dan mengingat kelahiran yang dijalaninya.ibu yang mengalami bedah Caesar akan merasakan emosi yang bermacam-macam. Keadaan ini dimulai dengan perasaan syok dan tidak percaya terhadap apa yang telah terjadi. wanita yang pernah mengalami bedah Caesar akan melahirkan dengan bedah Caesar pula untuk kehamilan berikutnya. Hal ini bisa membuat rasa takut terhadap peralatan-peralan operasi dan jarum (Duffet-Smith,1995).
d)      Kecemasan. Ketegangan, rasa tidak aman dan kekhawatiran yang timbul karena dirakan akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan, tetapi sumbernya sebagian besar tidak diketahuinya.
e)      Meningkatkan sensitivitas. Periode pasca kelahiran meliputi banyak sekali penyesuaian  diri dan pembiasaan diri. Bayi harus diurus, ibu harus pulih kembali dari persalinan anak, ibu harus belajar bagaimana merawat bayi, ibu perlu belajar merasa puas atau bahagia terhadap dirinya sendiri sebagai seorang ibu. Kurangnya pengalaman atau kurangnya rasa percaya diri dengan bayi yang lahir, atau waktu dan tuntutan yang ekstensif akan meningkatkan sensitivitas ibu (Santrock, 2002)
f)        Perubahan mood.

c.       Post Partum Psikosa
Adalah depresi yang terjadi pada minggu pertama dalam 6 minggu setelah melahirkan. Meskipun psikokis pada masa nifas merupakan sindrom pasca partum yang sangat jarang terjadi, hal itu dianggap sebagai gangguan jiwa paling berat dan dramatis yang terjadi pada periode pasca partum.

Penyebab Post Partum Psikosa
Disebabkan karena wanita menderita bipolar disorder atau masalah psikiatrik lainya yang disebut schizoaffaktif disorder. Wanita tersebut mempunyai resiko tinggi untuk terkena post partum psikosa. Hubungan yang kuat antara riwayat keluarga dengan gangguan depresi mania (ibu dan ayah) dan psikosis pada masa nifas menunjukan adanya hubungan genetik.
Gejala Post Partum Psikosa
Gejala bervariasi, muncul secara dramatis dan sangant dini serta berubah dengan cepat. Gejala tersebut biasanya meliputi perubahan suasana hati, perilaku yang tidak irasional dan gangguan agitas, ketakutan dan kebingangan karena ibu kehilangan kontak dengan realitas secara cepat. Awitanya sangat tiba-tiba, mayoritas terjadi sebelum 16 hari pasca partum. Gambaran gejala post partum psikosa adalah :
a)      Delusi
b)      Obsesi mengenai bayi
c)      Keresahan dan agitasi
d)      Gangguan perilaku mayor
e)      Kebingungan dan konfusi
f)        Rasa curiga dan ketakutan
g)      Pengabaian kebutuhan dasar
h)      Gangguan saat tidur atau insomnia
i)        Suasana hati depresi yang mendalam
j)        Episode mania, yang membuat ibu menjadi hiperaktif
k)      Halusinasi dan pemikiran waham morbid yang melibatkan ibu dan bayinya
Gambaran Klinik, Pencegahan dan Penatalaksanaan
Pada wanita yang menderita dapat terkena perubahan mood secara drastis, dari depresi ke gusaran dan berganti menjadi euphoria dalam waktu singkat. Penderita kehilangan semangat dan kenyamanan dalam beraktifitas, sering menjauhkan diri dari teman atau keluarga, sering mengeluh sakit kepala dan nyeri dad, jantung berdebar-debar serta nafas secara cepat.
Untuk mengurangi jumlah penderita ini sebagai anggota keluarga hendaknya harus lebih memperhatikan kondii dan keadaan ibu serta memberikan dukungan psikis agar tidak merasa kehilangan perhatian.
Saran kepada penderita untuk :
a)      Beristirahat cukup
b)      Mengonsumsi makanan dengan gizi yang seimbang
c)      Bergabung dengan orang-orang yang baru
d)      Bersikap fleksible
e)      Berbagi cerita dengan orang terdekat
f)        Sarankan untuk berkonsultasi dengan tenaga medis


B.       Contoh Soap Askeb Nifas
ASUHAN KEBIDANAN  PADA IBU NIFAS DENGAN
KELUHAN PAYUDARA BENGKAK 6 HARI POST PARTUM
TERHADAP Ny. N DI BPS FITRIA

NO. Register                            :  20021995                        
Tanggal Pengkajian/ Jam           : 22 Oktober 2014/ 14.00 WIB
Pengkaji                                  : Fitria, A.Md.Keb           

A.     DATA SUBJEKTIF
Identitas          
Nama Istri        :  Ny.N                                     Nama Suami     :  Tn.A 
Umur                :  25 tahun                                Umur                :  28 tahun       
Agama             :  Islam                                     Agama             :  Islam            
Suku / bangsa   : Jawa/Indonesia                       Suku / bangsa   : Jawa/Indonesia
Pendidikan       : SMA                                      Pendidikan       : SMA 
Pekerjaan         : Ibu Rumah Tangga                  Pekerjaan         : Wiraswasta    
Alamat             : Jl. Seruni No. 13 Bengkulu      Alamat             : Jl. Seruni No. 13

1.      Ibu mengatakan payudaranya bengkak dan sakit saat menyusui.
2.      Ibu mengatakan melahirkan anak pertama 6 hari yang lalu.
3.      Ibu mengatakan melahirkan secara spontan, plasenta lahir lengkap, berat badan bayi 2900 gram. Tidak terjadi penyulit atau komplikasi selama persalinan berlangsung.
4.      Ibu mengatakan tidak ada riwayat penyakit menular atau penyakit keturunan.
5.      Ibu mengatakan dalam keluarga tidak ada yang menderita suatu penyakit menular atau penyakit keturunan yang memerlukan perawatan khusus.
6.      Ibu mengatakan makan 3 kali sehari, dengan menu nasi 1 piring, sayur 1 mangkok, ikan 2 potong, buah-buahan, air putih 8-9 gelas perhari, jus, dan susu.
7.      Ibu mengatakan BAK ± 4 kali sehari, BAB 1 kali sehari dan Ibu istirahat tidur 7-8 jam sehari.
8.      Ibu mengatakan mengganti pembalut 2 kali sehari.
9.      Ibu mengatakan suami dan keluarga sangat senang dan menerima kelahiran bayinya.
10.  Ibu mengatakan keluarga sangat mendukung dalam perawatan bayi.
11.  Ibu mengatakan hubungan dengan suami, keluarga dan tetangga baik.
12.  Ibu mengatakan tidak teratur menyusui bayinya dan masih bingung cara menyusui yang baik dan benar.
13.  Ibu mengatakan ekonomi keluarga mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari.

B.     DATA OBJEKTIF
1.      Pemeriksaan Umum
Keadaan umum            : Baik              
 Kesadaran                   : Compos mentis
2.      Tanda vital          
a.       TD             : 120/80 mmHg            RR       : 23 x / menit
b.      Nadi           : 80 x / menit                 Suhu     : 36,5 oC
3.      Pemeriksaan Fisik           
a.       Kepala : tidak ada nyeri tekan ,tidak ada benjolan/masa , kulit kepala bersih, rambut tidak rontok.
b.      Wajah : tidak ada bekas luka, tidak ada oedema, tidak ada cloasma.
c.       Mata : tidak ada pembengkakan pada palpebra, konjungtiva merah muda, sklera putih.
d.      Hidung : tidak ada polip, tidak ada tanda infeksi.
e.       Mulut dan gigi : bibir lembab tidak pucat, rongga mulut bersih, tidak ada sariawan, tidak ada karang gigi, tidak ada karies, gusi tidak bengkak dan tidak berdarah, lidah bersih, tidak ada pembengkakan kelenjar tonsil.
f.        Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar limfe, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada pembesaran  kelenjar parotis, tidak ada pembesaran vena  jugularis.
g.       Payudara : simetris, ada benjolan, ada hiperpigmentasi aerola mamae, payudara mengkilat dan tegang, puting susu menonjol dan ada lecet, ASI sudah keluar, teraba  pembengkakan pada payudara, adanya nyeri tekan.
h.       Abdomen   : tidak ada luka bekas operasi, ada striae, ada linea nigra dan linea alba, kontraksi uterus baik, TFU pertengahan pusat simpisis, distensi blass kosong, diastasis recti normal.
i.         Pinggang : tidak ada nyeri tekan
j.        Genetalia    : lochea sanguinolenta, bau amis normal, tidak ada odema, tidak ada radang, tidak ada varises, tidak ada pembesaran kelenjar bartholini, tidak ada jahitan, tidak ada tanda-tanda infeksi.
k.      Ekstremitas
Atas           : Simetris, fungsi pergerakan baik, kuku tidak pucat, tidak ada odema, tidak ada cacat.
Bawah        : Simetris, fungsi pergerakan baik, kuku tidak pucat, tidak ada odema dan varises, homan (-), reflek patela (+).
l.         Anus          : tidak ada haemorroid
4.  Uji Diagnostik
a.       Darah : Hb 12 gram %

C.     ANALISA
Ny.N Umur 25 tahun P1A0 6 hari postpartum dengan payudara bengkak.



D.    PENATALAKSANAAN
1.      Memberitahu ibu hasil pemeriksaan meliputi :
TD                   : 120/80 mmHg            RR       : 23 x / menit
Nadi                 : 80 x / menit                 Suhu     : 36,5 oC
Payudara bengkak disebabkan oleh terlambat atau tidak teraturnya ibu menyusui bayinya, sehingga sisa ASI tersumbat pada daerah duktus.
Evaluasi            : Ibu mengerti dan mengetahui hasil pemeriksaannya.
2.      Mengajarkan dan membantu ibu melakukan perawatan payudara bengkak dengan cara sebagai berikut :
a.       Mengkompres hangat pada payudara yang bengkak untuk mengurangi rasa sakit dengan menggunakan sapu tangan.
b.      Kemudian melakukan pijat leher dan punggung belakang untuk pengeluaran ASI dengan cara ibu membungkuk bertopang kepala pada kursi. Meminta bantuan suami atau keluarga untuk memijatnya.
c.       Kemudian melakukan pijat ringan pada payudara yang bengkak dengan 3 jari secara perlahan kearah tengah.
d.      Melakukan stimulasi payudara dan putting dengan cara bayi disusukan.
e.       Pasca menyusui lakukan kompres dingin pada payudara.
f.        Menganjurkan pada ibu untuk mengenakan BH yang sesuai dan nyaman serta mengganti BH yang basah agar tidak menimbulkan jamur.
Evaluasi      : Ibu mengerti dan melakukan perawatan payudara bengkak dengan dibantu juga oleh suami atau keluarga.
3.      Mengajarkan dan membantu ibu melakukan teknik menyusui yang benar dengan cara sebagai berikut :
a.       Cuci tangan sebelum dan sesudah menyusui.
b.      Posisikan kepala bayi di siku ibu, lengan menyangga punggung dan telapak tangan menyangga bokong.
c.       Kepala  dan tubuh bayi lurus, tubuh bayi menghadap kedada ibu sehingga mulut bayi tepat berada di depan puting susu ibu.
d.      Perut bayi menempel pada perut ibu.
e.       Pencet payudara sampai keluar beberapa tetes lalu oleskan ke puting dan sekitarnya (aerola mamae), memegang payudara dengan ibu jari di atas dan empat jari menyangga bagian bawah payudara lalu tempelkan puting susu pada pipi maupun bibir bayi setelah mulut bayi membuka masukan puting susu dan sebagian besar areola mamae masuk kedalam mulut bayi.
f.        Lalu menyendawakan bayi agar tidak muntah dengan cara meletakkan bayi di pundak ibu lalu punggung bayi ditepuk halus sampai bersendawa atau meletakkan bayi di pangkuan ibu secara tengkurap lalu punggung bayi ditepuk halus sampai bersendawa.
Evaluasi      : Ibu telah mengerti tentang teknik menyusui yang benar dibuktikan dengan ibu melakukan apa yang dikatakan bidan
4.      Menjelaskan dan mengajarkan ibu perawatan tali pusat, menjaga bayi tetap hangat, dan merawat bayi sehari-hari seperti :
a.       Tali pusat tetap dijaga kebersihannya. Biarkan tali pusat dalam kedaan terbuka atau tidak perlu diisi kasa, alkohol atau apapun. Ikat popok dibawah tali pusat, untuk menghindari tali pusat terkena kotoran bayi.
b.      Jaga kehangatan bayi dengan cara, jangan membiarkan bayi bersentuhan langsung dengan benda dingin, misalnya lantai, atau tangan yang dingin. Jangan letakkan bayi dekat jendela, atau kipas angin. Segera keringkan bayi setelah mandi atau saat bayi basah, untuk mengurangi penguapan, dan jaga lingkungan sekitar bayi tetap hangat.
c.       Perawatan bayi sehari-hari seperti: hanya berikan ASI saja kepada bayi sampai usia 6 bulan. Segera ganti popok bayi setelah BAK atau BAB. Keringkan bayi segera setelah mandi.
Ev : Ibu mengerti dan akan mengikuti saran yang diberikan oleh bidan.
5.      Memberitahu ibu untuk melakukan kunjungan ulang satu minggu lagi
Evaluasi            : Ibu mau melakukan kunjungan ulang yang ke tiga satu minggu lagi.


BAB III
PENUTUP

A.     Kesimpulan
Masa nifas merupakan masa yang diawali sejak beberapa jam setelah plasenta lahir dan berakhir setelah 6 minggu setelah melahirkan. Akan tetapi seluruh organ kandungan baru pulih kembali, seperti dalam keadaan sebelum hamil dalam waktu 3 bulan setelah bersalin.
Deteksi dini komplikasi masa nifas yaitu:
1.      Perdarahan pervaginam
2.      Infeksi Masa Nifas
3.      Sakit Kepala,Nyeri Epigastrik,Penglihatan Kabur
4.      Pembengkakan Di  Wajah Atau Ekstermitas
5.      Demam,Muntah,Rasa Sakit Waktu Berkemih
6.      Kehilangan Nafsu Makan Dalam Waktu Yang Lama
7.      Rasa Sakit, Merah, Lunak, Dan Pembengkakan Dikaki
(Thrombopeblitis)
8.      Merasa Sedih Atau Tidak Mampu Mengasuh Sendiri Bayinya Dan
Dirinya Sendiri

B.     Saran
Untuk mahasiswa kebidanan agar lebih meningkatkan keterampilan untuk mendeteksi secara dini komplikasi pada masa nifas

1.       
DAFTAR PUSTAKA

Ambarwati,2008.Asuhan Kebidanan Nifas.Yogyakarta: Mitra Cendikia
Angsar M.Dikman,1995.Hipertensi Dalam Kehamilan,Lab/UPF Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran UNAIR/RSUD Dr. Soetomo. Surabaya
-1994,Obstetri Phantom,Fakultas Kedokteran Airlangga, Surabaya
Bhiyatun.2009.Asuhan Kebidanan Nifas Normal. Jakarta:EGC
Bennet R. Brown Linda K.1996.Myles Text Book For Midwifes.Chrurcchill Livingstone.Tokyo
BMSG.2001 .Practical Hints on Ereastfeeding. Second edition revised. Breastfeeding Mother’s Support Group. Singapore
Bobak,dkk.2004.Keperawatan Maternitas. Hal 460,Jakarta: EGC
DennenC.Philip.1994.Partus Forceps.Binarupa Aksara.Jakarta
Depkes RI. 1992.Manajemen Laktasi.Pusdiknakes WHO,JHIPIEGO. Jakarta
DepkesRI (1990). Buku Pedoman Pengenalan Tanda Bahaya pada Kehamilan,Persalinan dan Nifas. Departemen Kesehatan


0 komentar:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar