BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Masa nifas
merupakan masa yang diawali sejak beberapa jam setelah plasenta lahir dan
berakhir setelah 6 minggu setelah melahirkan. Akan tetapi seluruh organ
kandungan baru pulih kembali, seperti dalam keadaan sebelum hamil dalam waktu 3
bulan setelah bersalin.
Masa nifas
tidak kalah penting dengan masa-masa ketika hamil, karena pada saat ini
organ-organ reproduksi sedang mengalami proses pemulihan setelah terjadinya
proses kehamilan dan bersalin.
Masa nifas
dapat dibagi menjadi 3 bagian yaitu pasca nifas, masa nifas dini, dan
masa nifas lanjut, yang masing-masing memiliki cirri khas tertentu. Pasca nifas
adalah masa setelah persalinan sampai 24 jam sesudahnya (0-24 jam setelah
melahirkan). Masa nifas dini adalah masa permulaan nifas yaitu 1 hari sesudah melahirkan
sampai 7 hari lamanya (1 minggu pertama). Masa nifas lanjut adalah 1 minggu
sesudah melahirkan sampai dengan 6 minggu setelah melahirkan.
Periode pasca
persalinan meliputi masa transisi kritis bagi ibu, bayi dan keluarganya secara
fisiologis, emosional dan social. Baik di Negara maju maupun Negara berkembang,
perhatian utama bagi ibu dan bayi terlalu banyak tertuju pada masa kehamilan
dan persalinan, sementara keadaan yang sebenarnya justru merupakan
kebalikannya, oleh karena resiko kesakitan dan kematian ibu serta bayi lebih
sering terjadi pada masa pascapersalinan. Keadaan ini terutama disebabkan oleh
konsekuensi ekonomi, disamping ketidaktersediaan pelayanan atau rendahnya
peranan pasilitas kesehatan dalm menyediakan pelayanan kesehatan yang cukup
berkualitas. Rendahnya kualitas pelayanan kesehatan juga menyebabkan rendahnya
keberhasilan promosi kesehatan dan deteksi dini sera penatalaksanaan yang
adekuat terhadap masalah dan penyakit yang timbul pada masa pascapersalinan
(Saifuddin, 2008).
Walaupun
menderita nyeri dan tidak nyaman, kelahiran bayi biasanya merupakan peristiwa
yang menyenangkan karena dengan berakhirnya masa kehamilan yang telah lama
ditunggu-tunggu dan dimulainya suatu kehidupan baru. Namun kelahiran bayi juga
merupakan suatu masa kritis bagi kesehatan ibu. Kemungkinan timbul masalah atau
penyulit
Cakupan
kunjungan ibu nifas pada tahun 2009 adalah 71,54%, sementara target cakupan
kunjungan ibu nifas pada tahun 2015 adalah 90%. Berdasarkan data dari profil
kesehatan tahun 2009 cakupan kunjungan masa nifas di Jawa Tengah yaitu 73, 38%.
B. Rumusan Masalah
1. Apa saja
komplikasi yang harus dideteksi secara dini pada masa nifas ?
2. Bagaimana
contoh SOAP masa nifas ?
C. Tujuan
1. Untuk
mengetahui apa saja deteksi dini komplikasi masa nifas
2. Untuk mengetahui
bagaimana contoh soap pada ibu nifas
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Deteksi
dini komplikasi masa nifas
1.
Perdarahan
pervaginam
Perdarahan postpartum
paling sering diartikan sebagai keadaaan kehilangan darah lebih dari 500 ml
selama 24 jam pertama sesudah kelahiran bayi. Perdarahan post partum adalah
merupakan penyebab penting kehilangan darah serius yang paling sering dijumpai
di bagian obstetrik. Sebagai penyebab langsung kematian ibu, perdarahan
postpartum merupakan penyebab sekitar ¼ dari keseluruhan kematian akibat
perdarahan obstetrik yang diakibatkan oleh perdarahan postpartum.
Perdarahan pervaginam
yang melebihi 500ml setelah bersalin didefinisikan sebagai perdarahan pasca
persalinan. Terdapat beberapa masalah mengenai definisi ini.
a.
Perkiraan kehilangan darah biasanya
tidak sebanyak yang sebenarnya, kadang – kadang hanya setengah dari biasanya.
Darah tersebut bercampur dengan cairan amnion atau dengan urine, darah juga
tersebar pada spon, handuk dan kain didalam ember dan dilantai.
b.
Volume darah yang hilang juga
bervariasi akibatnya sesuai dengan kadar hemoglobin ibu. Seorang ibu dengan
kadar Hb normal akan dapat menyesuaikan diri terdahap kehilangan darah yang
akan berakibat fatal pada anemia. Sseorang ibu yang sehat dan tidak anemipun
dapat mengalami akibat fatal dari kehilangan darah.
c.
Perdarahan dapat terjadi dengan lambat
untuk jangka waktu beberapa jam dan kondisi ini dapat tidak dikenali sampai
terjadi syok.
Penilaian resiko pada
saat antenatal tidak dapat memperkirakan akan terjadi perdarahan pasca
persalinan. Penanganan aktif kala III sebaiknya dilakukan pada semua wanita
yang bersalin karena hal ini dapat menurunkan insiden perdarahan pasca
persalinan akibat atonia uteri. Semua ibu pasca bersalin harus dipantau dengan
ketat untuk mendiagnosa perdarahan fase persalinan.
Jenis perdarahan
pervaginam :
a. Perdarahan Post Partum
Primer:
Perdarahan post partum primer adalah
mencakup semua kejadian perdarahan dalam 24 jam setelah kelahiran.
Penyebab :
1) Atonia uterus, yang dapat
terjadi karena plasenta atau selaput ketuban tertahan.
2) Trauma genita, yang
meliputi penyebab spontan dan trauma akibat penatalaksanaan atau gangguan,
misalnya kelahiran yang menggunakan peralatan termasuk sc dan episiotomy.
3) Koagulasi Intravascular
Diseminata.
4) Inversi Uterus
b.
Perdarahan Post Partum Sekunder :
Perdarahan post partum sekunder adalah
mencakup semua kejadian PPH yang terjadi antara 24 jam setelah kelahiran bayi
dan 6 minggu masa post partum.
Penyebab :
1)
Fragmen plasenta atau selaput ketuban
tertahan
2)
Pelepasan jaringan mati setelah
persalinan macet ( dapat terjadi di serviks, vagina, kandung kemih, rectum )
3)
Terbukanya luka pada uterus (setelah
sectio saesaria, ruptur uterus
Penatalaksanaan
Perdarahan :
a.
Perdarahan Postpartum
Primer
1)
Perdarahan Postpartum
Atonia
a)
Pijat uterus agar berkontraksi dan
keluarkan bekuan darah.
b)
Kaji kondisi pasien (denyut jantung,
tekanan darah, warna kulit. Kesadaran, kontraksi uterus) dan perkiraan
kehilangan darah yang sudah keluar. Jika pasien dalam kondisi syok, pastikan
jalan nafas dalam kondisi terbuka, palingkan wajah kesalah satu sisi.
c)
Berikan oksitosin 10 IU intra vena dan
ergometrin 0.5 intra vena. Berikan melalui IM apabila tidak bisa melalui IV.
d)
Siapkan donor untuk transfusi, ambil
darah untuk kros cek, berikan Nacl 1 L/ 15 menit apabila pasien mengalami syok.
( pemberian infuse sampai sekitar 3 liter untuk menangani syok ), pada kasus
syok yang parah gunakan plasma ekspander.
e)
Kandung kemih selalu dalam kondisi
kosong.
f)
Awasi agar uterus tetap berkontraksi
dengan baik. Tambakahkan 40 IU oksitosin dalam 1 L cairan infuse dengan tetesan
40 tetes permenit. Usahakan tetap menyusui bayinya.
g)
Jika perdarahan persisten dan uterus
tetap relaks, lakukan kompresi bimanual.
h)
Jika perdarahan persiten dan uterus
berkontraksi dengan baik, maka lakukan pemeriksaan pada vagina dan serviks
untuk menentukan laserasi yang menyebabkan perdarahan tersebut.
i)
Jika ada infeksi bahwa mungkin terjadi
infeksi yang diikuti dengan demam, menggigil, lochea berbau busuk, segera
berikan antibiotic berspektrum luas.
j)
Lakukan pencatatan yang akurat.
Penatalaksanaan lanjut :
Pantau kondisi pasien secara seksama selama 24-48 jam, hal
tersebut meliputi :
a) Memeriksa bahwa uterus
kenyal dan berkontraksi dengan baik.
b) Darah yang hilang.
c) Suhu
d) Denyut nadi
e) Tekanan darah
f)
Kondisi umum ( misal kepucatan, tingkat
kesadaran ).
g) Asupan cairan (setelah
pasien stabil cairan IV harus diberikan rata – rata 1 liter dalam 6 sampai 8
jam ).
h) Transfusi darah harus
dipantau dan volume yang ditransfusikan harus dicatat sebagai asupan cairan.
i)
Pengeluaran urine.
j)
Membuat catatan yang akurat.
Hal yang harus
diperhatikan :
a) Jangan pernah tinggalkan
pasien sendirian sampai perdarahan terkendali dan kondisi umum lainnya bagus.
b) Pada kasus perdarahan
postpartum atonia jangan pernah memasukkan pack vagina.
c) Jika penolong berada di
rumah, puskesmas tanpa fasilitas dan keterampilan uang diperlukan rujukan ke
rumah sakit dengan fasilitas dan keterampilan yang memadai.
2)
Perdarahan Postpartum
Traumatik
a) Pastikan asal perdarahan,
perineum (robekan atau luka episiotomi), vulva ( rupture varicosities, robekan
atau hematoma ; hematoma mungkin tidak tampak dengan jelas tapi dapat
menyebabkan nyeri dan syok ), vagina, serviks ( laserasi ), uterus ( rupture atau
inversi uterus dapat terjadi dan disertai dengan nyeri dan syok yang jelas).
b) Ambil darah untuk kros
cek dan cek kadar hb
c) Pasang infuse IV, Nacl
atau RL jika pasien mengalami syok
d) Pasien dalam posisi
litotomi dan penerangan cukup
e) Perkirakan darah yang hilang
f)
Periksa tekanan darah, denyut nadi, dan
periksa kondisi umum.
g) Jahit robekan
h) Berikan antibiotic
berspektrum luas
i)
Membuat catatan yang akurat
2. Infeksi Masa Nifas
Beberapa bakteri dapat
menyebabkan infeksi setelah persalinan.Infeksi masa nifas masih merupakan
penyebab tertinggi AKI. Infeksi alat genitl merupakan komplikasi masa nifas.
Infeksi yang meluas ke saluran urinari,payudara dan pembedahan merupakn
penyebab terjadinya AKI tinggi. Gejala umum infeksi dapat dilihat dari
temperatur atau suhu pembengkakan tatikardi dan malaise. Sedangkan gejala local
dapat berupa uterus lembek,kemerahan dan rasa nyeri pada payudara atau adanya
disuria.
Infeksi alat genital
Ibu berisiko terjadi infeksi post partum karena adanya luka
pada bekas pelepasan plasenta,laserasi pada saluran genital termasuk episiotomi
pada perineum,dinding vagina dan serviks,infeksi post seksio caesar kemungkinan
yang terjadi. Infeksi masa nifas atau sepsis puerperalis adalah infeksi pada
traktus genitalia yang terjadi pada setiap ketuban pecah (ruptur membran) atau
persalinan dan 42 hari setelah persalinan atau abortus,dimana terdpat dua atau
lebih dari hal-hal berikut:nyeri pelvik,demam 38.5 C atau lebih,rabas vagina
yang abnormal,rabas vagina yang berbau busuk dan keterlambatan dalam kecepatan
penurunan uterus.
·
Penyebab infeksi : bakteri endogen dan
baketri eksogen.
·
Faktor predisposisi : nutrisi yang
buruk,defisiensi zat besi,persalinan lama,ruptur membran,episiotomi,SC.
·
Gejala klinis endometritis tampak pada
hari ke-3 post partum C dan tatikardi,sakit kepala,disertai dengan suhu yang
mencapai 39 C kadang juga terdapat uterus yang lembek.
·
Manajemen: ibu harus diisolasi.
Macam-macam infeksi masa nifas:
1)
Endometritis
Jenis infeksi yang paling
sering ialah endometritis. Kuman-kuman yang memasuki endometrium, biasanya
melalui luka bekas insersio plasenta, dan dalam waktu singkat mengikutsertakan
seluruh endometrium. Pada infeksi dengan kuman yang tidak terlalu patogen, radang
terbatas pada endometrium.
Gambaran klinik
tergantung jenis dan virulensi kuman, daya tahan penderita, serta derajat
trauma pada jalan lahir. Biasanya demam mulai 48jam postpartum dan bersifat
naik turun (remittens). His lebih nyeri dari biasa dan lebih lama dirasakan.
Lokia bertambah banyak, berwarna merah atau cokelat, serta berbau. Lokia yang
berbau tidak selalu menyertai endometritis sebagai gejala. Sering terdapat
subinvolusi. Leukosit naik antara 15.000-30.000/mm3. Sakit kepala, kurang
tidur, dan kurang nafsu makan dapat mengganggu penderita. Tanda dan gejala endometritis
adalah sebagai berikut :
a) Peningkatan demam secara
persisten hingga 40ºC, bergantung pada keparahan infeksi.
b)
Takikardi.
c)
Menggigil dengan infeksi berat.
d)
Nyeri tekan uteri menyebar secara
lateral.
e)
Nyeri panggul dengan pemeriksaan
bimanual.
f)
Subinvolusi
g)
Lokia sedikit, tidak berbau, atau
berbau tidak sedap, lokia seropurelenta.
h)
Variabel awitan bergantung pada
organisme, dengan streptococcus grup B muncul lebih awal.
i)
Hitung sel darah putih mungkin
meningkat di luar leukositosis puerperium fisiologis.
Penanganan dengan obat antimikroba spekrum-luas termasuk
sefalosporin (misalnya: cefoxitin,cefotetan) dan penisilin spektrum-luas, atau
inhibitor kombinasi penicillin/betalaktamase (augmentin, Unasyn). Kombinasi
klindamisin dan gentamisin huga dapat digunakan, seperti metronidazol jika ibu
tidak menyusui. Endometritis ringan dapat ditangani dengan terapi oral meskipun
infeksi yang lebih serius memerlukan hospitalisasi untuk terapi intravena.
Penyebaran endometritis, jika tidak ditangani, dapat menyebabkan
salpingitis, tromboflebitis septik, peritonitis, dan fasilitas nekrotikans.
Setiap dugaan adanya infeksi memburuk, gejala yang tidak dapat dijelaskan, atau
nyeri akut memerlukan konsultasi dokter dan rujukan.
Jika infeksi tidak meluas, maka suhu turun secara
berangsur-angsur dan turun pada hari ke 7-10. Pasien sedapatnya diisolasi,
tetapi bayi boleh terus menyusi poda ibunya. Untuk kelancaran pengaliran lokia,
pasien boleh diletakkan dengan letak fowler dan diberi juga uterustonika.
Selain itu, pasien juga disuruh minum banyak.
2)
Parametritis
Parametritis adalah
infeksi jaringan pelvis yang dapat terjadi melalui beberapa cara: penyebaran
melalui limfe dari luka serviks yang terinfeksi atau dari endometritis,
penyebaran langsung dariluka pada serviks yang meluas sampai ke dasar
ligamentum, serta penyebaran sekunder dari tromboflebitis. Proses ini dapat
tinggal terbatas pada dasar ligamentum latum atau menyebar ekstraperitoneal ke
semua jurursan.
Jika menjalar ke atas,
dapat diraba pada dinding perut sebelah lateral di atas ligamentum inguinalis
atau pada fossa iliaka. Parametritis ringan dapat meneybabkan suhu yang
meninggi dalam nifas. Bila suhu tinggi menetap lebih dari seminggu disertai
rasa nyeri di kiri atau kanan dan nyeri pada pemeriksaan dalam, hal ini patut
dicurigai terhadap kemungkinan perametritis. Pada perkembangan proses
peradangan lebih lanjut, gejala-gejala parametritis akan menjadi lebih jelas.
Pada pemeriksaan dalam
dapat diraba tahanan padat dan nyeri disebelah uterus dan tahanan ini yang berhubungan
erat dengan tulang panggul dapat meluas ke berbagai jruusan. Pada bagian tengah
jaringan yang meradang tersebut dapat tumbuh abses. Dalam halo ini, suhu yang
mula-mual tinggi secara menetap menjadi naik turun disertai dengan mengigil.
Penderita tam[ak sakit, nadi cepat, dan perut nyeri. Pada 2/3 kasus tidak terjadi pembentuan abses dan
suhu menurun dalam beberapa minggu. Tumor disebelah uterus mengecil sedikit dem
sedikit akhirnya terdapat permetrium yang kaku. Jika terjadi abses, cairan
abses selalu mencari jalan k erongga perut sehingga menyebabkan peritonitis,
kerektum, atau ke kandung kemih.
3)
Peritonitis
Peritonitis dapat berasal
dari penyebaran melalui pembuluh
limfe uterus, paramtritis yang meluas ke peritoneum, salpingo-ooforitis meluas
ke peritoneum atau langsung sewaktu tindakan per abdominal. Peritonitis yang
terlokalisasi hanya dalam rongga pelvis disebut pelvioperitonitis, bila meluas
ke seluruh rongga peritoneum disebut peritonitis umum, dan keadaan ini sangat
berbahaya karena dapat menyebabkan kematian 33% dari seluruh kematian akibat
infeksi.
Gambaran klinis dari
peritonitis adalah sebagai berikut :
a)
Pelvioperitonitis : demam, nyeri perut
bagian bawah, nyeri pada pemeriksaan dalam, kavum douglasi menonjol karena
adanya abses(kadang-kadang). Bila hal ini dijumpai, maka nanah harus
dikeluarkan dengan kolpotomi posterior, agar nanah tidak keluar menembus
rektum.
b)
Peritonitis umum adalah berbahaya bila
disebabkan oleh kuman yang patogen. Perut kembung, meteorismus, dan dapat
terjadi paralitik ileus. Suhu badan tinggi, nadi cepat dan kecil, perut nyeri
tekan, pucat, muka cekung, kulit dingin, mata cekung yang disebut muka hipokrates.
Penegakan diagnosis dibantu dengan pemeriksaan laboratorium.
Pengobatan secara umum :
Sebaiknya segera
dilakukan pembiakan (kultur), sekret vagina, luka operasi, darah, serta uji
kepekaan untuk mendapatkan antibiotika yang teapt dalam pengobatan. Berikan
dalam dosis yang cukup dan adekuat. Oleh karena pemeriksaan memerlukan waktu,
maka berikan spektrum luas (broad spectrum) sementara menunggu hasil
laboratorium. Pengobatan memepertinggi daya tahan tubuh penderita, infus atau
transfusi darah diberikan, perawatan lainnya sesuai dengan komplikasi yang
dijumpai.
3. Sakit Kepala,Nyeri
Epigastrik,Penglihatan Kabur
a) Sakit kepala
Nyeri kepala pada masa nifas dapat
merupakan gejala preeklampsia, jika tidak diatasi dapat menyebabkan kejang
maternal, stroke,koagulopati dan kematian.
Sakit kepala
yang menunjukkan suatu masalah yang serius adalah:
1) Sakit kepala hebat
2) Sakit kepala yang menetap
3) Tidak hilang dengan istirahat
4) Depresi post partum
Kadang - kadang dengan sakit kepala yang
hebat tersebut, ibu mungkin menemukan bahwa penglihatannya menjadi kabur atau
berbayang. Sakit kepala yang hebat disebabkan karena terjadinya edema pada otak
dan meningkatnya resistensi otak yang mempengaruhi Sistem Saraf Pusat, yang
dapat menimbulkan kelainan serebral (nyeri kepala, kejang) dan gangguan
penglihatan.
Gejala :
1) Tekanan darah naik atau turun
2)
Lemah
3)
Anemia
4)
Napas pendek atau cepat
5)
Nafsu makan turun
6)
Kemampuan berkonsentrasi kurang
7)
Tujuan dan minat terdahulu hilang; merasa kosong
8)
Kesepian yang tidak dapat digambarkan; merasa bahwa
tidak seorang pun mengerti
9)
Serangan cemas
10) Merasa takut
11) Berpikir obsesi
12) Hilangnya rasa takut
13) Control terhadap emosi hilang
14) Berpikir tentang kematian
Penanganan:
1. Lakukan penilaian klinik terhadap
keadaan umum sambil mencari riwayat penyakit sekarang dan terdahulu dari pasien
atau keluarga
2. Pemberian Parasetamol dan Vit B Complek 2x/hari, Tablet
zat besi 1x/hari
3. Jika
tekanan diastol >110mmHg, berikan antihipertensi sampai tekanan diastolik
4.
Pasang infus RL dengan jarum besar no.16 atau lebih
5.
Ukur keseimbangan cairan
6.
Persiapan rujukan
7.
Periksa Hb
8.
Periksa protein urine
9. Observasi tanda-tanda vital
10. Lebih banyak istirahat
b)
Nyeri epigastrium
Nyeri daerah epigastrium atau daerah kuadran
atas kanan perut, dapat disertai dengan edema paru. Keluhan ini sering
menimbulkan rasa khawatir pada penderita akan adanya gangguan pada organ vital
di dalam dada seperti jantung, paru dan lain-lain.
Preeklamsia ialah penyakit dengan
tanda-tanda hipertensi, edema, dan proteinuria yang timbul karena kehamilan,
umumnya terjadi pada triwulan ke-3 kehamilan. Sedangkan eklampsia merupakan
penyakit lanjutan preeklamsia, yakni gejala di atas ditambah tanda gangguan
saraf pusat, yakni terjadinya kejang hingga koma, nyeri frontal, gangguan
penglihatan, mual hebat, nyeri epigastrium, dan hiperrefleksia. Hipertensi biasanya
timbul lebih dahulu daripada tanda-tanda
lain karena terjadi reimplantasi amnion ke dinding rahim pada trimester ke-3
kehamilan. Pada keadaan ibu yang tidak sehat atau asupan nutrisi yang kurang,
reimplantasi tidak terjadi secara optimal sehingga menyebabkan blokade pembuluh
darah setempat dan menimbulkan hipertensi. Diagnosis hipertensi dapat dibuat
jika kenaikan tekanan sistolik 30 mmHg atau lebih di atas tekanan yang biasanya
ditemukan atau mencapai 140 mmHg atau lebih, dan tekanan diastolik naik dengan
15 mmHg atau lebih atau menjadi 90 mmHg atau lebih. Penentuan tekanan darah ini
dilakukan minimal 2 kali dengan jarak waktu 6 jam pada keadaan istirahat. Edema
ialah penimbunan cairan secara umum dan berlebihan dalam jaringan tubuh, dan
biasanya dapat diketahui dari kenaikan berat badan serta pembengkakan kaki,
jari tangan, dan muka. Kenaikan 1 kg seminggu beberapa kali perlu menimbulkan
kewaspadaan terhadap timbulnya preeklamsia. Edema juga terjadi karena
proteinuria berarti konsentrasi protein dalam air kencing yang melebihi 0,3
g/liter dalam air kencing 24 jam atau pemeriksaan kualitatif menunjukkan 1+
atau 2+ atau 1g/liter atau lebih dalam
air kencing yang dikeluarkan dengan kateter atau midstream yang diambil
minimal 2 kali dengan jarak waktu 6 jam. Biasanya proteinuria timbul lebih
lambat daripada hipertensi dan kenaikan berat badan, karena itu harus dianggap
sebagai tanda yang cukup serius.
1.
Kira-kira 90 persen pasien terdapat lelah,
2. 65 persen dengan nyeri epigastrium, 30 persen
dengan mual dan muntah
3. 31
persen dengan sakit kepala.
1.
Informed consent
2.
Mengobservasi TTV
3.
Persiapan rujukan
4.
Pemeriksaan darah rutin
5. Tes
fungsi hati.
6.
Profilaktik MgSO4 untuk mencegah kejang (eklampsia),
7.
Bolus 4 – 6 g MgSO4 dalam konsentrasi 20%. Dosis ini diikuti dengan infus 2 g
per jam.
8.
Jika terjadi toksisitas, masukkan 10 – 20 ml kalsium glukonat 10% i.v.
9.
Terapi antihipertensi harus dimulai jika tekanan darah senantiasa di atas 160/110
mmHg → Hidralazin IV dosis rendah 2,5 – 5 mg (dosis inisial 5mg) setiap 15 – 20
menit sampai tekanan darah target tercapai atau kombinasi nifedipin dan MgSO4.
c) Penglihatan kabur
Perubahan
penglihatan atau pandangan kabur, dapat menjadi tanda preeklampsi. Masalah visual yang
mengidentifikasikan keadaan yang mengancam jiwa adalah perubahan visual
mendadak, misalnya penglihatan kabur
atau berbayang, melihat bintik-bintik (spot) , berkunang-kunang.
Selain
itu adanya skotoma, diplopia dan ambiliopia merupakan tanda-tanda yang
menunjukkan adanya pre-eklampsia berat yang mengarah pada eklampsia. Hal ini
disebabkan adanya perubahan peredaran darah dalam pusat penglihatan di korteks
cerebri atau didalam retina (edema retina dan spasme pembuluh darah). Perubahan
penglihatan ini mungkin juga disertai dengan sakit kepala yang hebat.
Pada
preeklamsia tampak edema retina, spasmus setempat atau menyeluruh pada satu
atau beberapa arteri. Skotoma, diplopia, dan ambliopia pada penderita
preeklamsia merupakan gejala yang menunjukkan akan terjadinya eklampsia.
Keadaan ini disebabkan oleh perubahan aliran darah dalam pusat penglihatan di
korteks serebri atau dalam retina. Perubahan pada metabolisme air dan
elektrolit menyebabkan terjadinya pergeseran cairan dari ruang intravaskuler ke
ruang interstisial. Kejadian ini akan diikuti dengan kenaikan hematokrit,
peningkatan protein serum dan sering bertambahnya edema, menyebabkan volume
darah berkurang, viskositas darah meningkat, waktu peredaran darah tepi lebih
lama. Karena itu, aliran darah ke jaringan di berbagai bagian tubuh berkurang,
dengan akibat hipoksia. Elektrolit, kristaloid, dan protein dalam serum tidak
menunjukkan perubahan yang nyata pada preeklamsia. Konsentrasi kalium, natrium,
kalsium, dan klorida dalam serum biasanya dalam batas-batas normal. Gula darah,
bikarbonat dan pH pun normal. Kadar kreatinin dan ureum pada preeklamsia tidak
meningkat, kecuali bila terjadi oliguria atau anuria. Protein serum total,
perbandingan albumin globulin dan tekanan osmotic plasma menurun pada
preeklamsia. Pada kehamilan cukup bulan kadar fibrinogen meningkat dengan nyata
dan kadar tersebut lebih meningkat lagi pada preeklamsia.
1.
Peningkatan tekanan darah yang cepat
2.
Oliguria
3.
Peningkatan jumlah proteinuri
4.
Sakit kepala hebat dan persisten
5.
Rasa mengantuk
6.
Penglihatan kabur
7.
Mual muntah
8.
Nyeri epigastrium
9.
Hiperfleksi
1.
Primigravida
2.
Wanita gemuk
3.
Wanita dengan hipertensi esensial
4.
Wanita dengan kehamilan kembar
5.
Wanita dengan diabetes, mola hidatidosa, polihidramnion
6.
Wanita dengan riwayat eklamsia atau preeklamsia pada kehamilan sebelumnya
7.
Riwayat keluarga eklamsi
1.
Mendeteksi terjadinya eklamsi
2.
Mencegah terjadinya eklamsi
3.
Mengetahui kapan waktu berkolaborasi dengan dokter
4.
Memberikan penanganan awal sebelum merujuk pada kasus eklamsi
4. Pembengkakan Di Wajah Atau Ekstermitas
Pembengkakan
wajah dan ektremitas atau yang sering disebut dengan udem sering ditemukan pada
wanita hamil ataupun nifas. Baik karena perubahan fisiologis maupun perubahan
yang patologis.
Udem adalah
tertimbunnya cairan dalam jaringan , akibat adanya gannguan keseimbangan. Udem
dapat terjadi oleh :
a)
Adanya tekanan hidrostatik yang sangat tinggi pada
pembuluh kapiler seperti misalnya bila aliran darah vena tersumbat
b)
Tekanan osmotik terlalu rendah, karena kadar protein
plasma, terutama albumin sangat rendah
c)
Sumbatan pada
aliran limfe
d)
Kerusakan dinding kapiler sehingga plasma dapat
merembes keluar dan masuk ke dalam jaringan serta menimbulkan tekanan osmotik
yang melawan tekanan osmotik protein dalam aliran darah
Udem juga
terlihat pada adanya trombosis pada vena – vena betis yang terletak dalam,
biasanya merupakan komplikasi berbahaya akibat berbaring yang terlalu lama,
yang menyebabkan aliran dalam darah vena menjadi lambat sehinga membeku.
Trombosis seperti ini terjadi akibat infeksi.
Keadaan
pembengkakan wajah dan ekstremitas, sering menyertai kelainan – kelainan pada
masa nifas, sebagai berikut
1) Eklamsi Postpartum
Selain
pembengkakan wajah dan ekstremitas, adapun gejala – gejala yang sering
menyertai eklamsi postpartum adalah
a)
Peningkatan tekanan darah, diastolic > 90 mmHg
b)
Oluguria
c)
Peningkatan
jumlah proteinuri ( karena vasospasme akut )
d)
Sakit kepala berat dan persisten
e)
Rasa mengantuk
f)
Penglihatan kabur
g)
Mual muntah
h)
Nyeri epigastrik
i)
Hiperefleksi
Faktor resiko :
a)
Primigravida
b)
Wanita dengan
hipertensi esensial
c)
Wanita dengan kehamilan kembar
d)
Wanita dengan diabetes, mola hidatidosa,
polihidramnion
e)
Wanita dengan riwayat eklamsia atau preeklamsia pada
kehamilan sebelumnya
f)
Riwayat keluarga eklamsi
Peran Bidan :
a)
Mendeteksi terjadinya eklamsi
b)
Mencegah terjadinya eklamsi
c)
Mengetahui kapan waktu berkolaborasi dengan dokter
d)
Memberikan penanganan awal sebelum merujuk pada kasus
eklamsi
2) Syndrom Nefrotik
Syndrom nefrotik adalah suatu spektrum penyakit ginjal
yang penyebabnya beragam. Pada gambaran mikroskopis ginjal, terdapat kelainan
pada sawar dinding kapiler glomerulus, yang menyebabkan filtrasi protein plasma
yang berlebihan.
Gejala yang menyertai syndrom nefrotik ini selain dari
pembengkakan wajah dan ekstremitas antara lain :
1) Proteinuria
> 3 gr/hari
2) Hipoalbuminemia
3) Hiperlipidemia
5.
Demam,Muntah,Rasa Sakit
Waktu Berkemih
Organisme yang menyebabkan infeksi saluran kemih berasal
dari flora normal perineum. Sekarang terdapat bukti bahwa beberapa galur
Escherichia coli memiliki vili yang meningkatkan
virulensinya.(Svanborg-Eden,1982).
Pada masa nifas dini, sentivitas kandung kemih terhadap
tegangan air kemih didalam vesika sering menurun akibat trauma persalinan. Serta analgesia epidural atau spinal
sensasi peregangan kandung kemih juga mungkin berkurang akibat rasa tidak
nyaman yang ditimbulkan oleh episiotomy yang lebar, laserasi periuretra, atau
hematom dinding vagina. Setelah melahirkan terutama saat infuse oksitosin
dihentikan terjadi diuresis yang disertai peningkatan produksi urin dan
distensi kandungkemih. Overdistensi yang disertai kateterisasi untuk
mengeluarkan air kemih sering menyebabkan infeksi saluran kemih.
Infeksi
saluran kemih (sistitis)
Sistitis adalah istilah
medis untuk peradangan kandung kemih. Sebagian besar waktu, peradangan
disebabkan oleh infeksi bakteri, dan itu disebut infeksi saluran kemih. Infeksi
kandung kemih dapat menyakitkan dan mengganggu, dan dapat menjadi masalah
kesehatan yang serius jika infeksi menyebar ke ginjal.
Jarang terjadi, sistitis
dapat muncul sebagai reaksi terhadap obat-obatan tertentu, terapi radiasi atau
iritasi potensial, seperti semprotan kebersihan, jeli spermisida atau
penggunaan kateter jangka panjang. Sistitis juga dapat terjadi akibat komplikasi
dari penyakit lain. Pengobatan umum untuk bakteri sistitis adalah antibiotik.
Pengobatan untuk jenis sistitis lain tergantung pada penyebab yang
mendasarinya.
Gejala:
Infeksi kandung kemih biasanya menyebabkan desakan untuk berkemih dan rasa terbakar atau nyeri selama berkemih. Nyeri biasanya dirasakan diatas tulang kemaluan dan sering juga dirasakan di punggung sebelah bawah. Gejala lainnya adalah nokturia (sering berkemih di malam hari). Air kemih tampak berawan dan mengandung darah.
Infeksi kandung kemih biasanya menyebabkan desakan untuk berkemih dan rasa terbakar atau nyeri selama berkemih. Nyeri biasanya dirasakan diatas tulang kemaluan dan sering juga dirasakan di punggung sebelah bawah. Gejala lainnya adalah nokturia (sering berkemih di malam hari). Air kemih tampak berawan dan mengandung darah.
Kadang infeksi kandung kemih tidak menimbulkan gejala dan
diketahui pada saat pemeriksaan air kemih (urinalisis untuk alasan lain.)
Sistitis tanpa gejala terutama sering terjadi pada usia lanjut, yang bisa
menderita inkontinensia
uri sebagai akibatnya.
Tanda-tanda dan gejala sistitis sering termasuk:
a) Dorongan yang kuat untuk buang air kecil terus-menerus
b) Terasa terbakar ketika buang air kecil
c) Darah dalam urin (hematuria)
d) Ketidaknyamanan di daerah panggul
e) Perasaan tekanan di perut bagian bawah
f)
Demam
ringan
Penyebab
Bakteri dari vagina bisa berpindah dari uretra ke kandung
kemih. Wanita sering menderita infeksi kandung kemih setelah melakukan hubungan
seksual, kemungkinan karena uretra mengalami cedera pada saat melakukan
hubungan seksual. Kadang infeksi kandung kemih berulang pada wanita terjadi
karena adanya hubungan abnormal antara kandung kemih dan vagina (fistula
vesikovaginal).
Infeksi kandung kemih jarang terjadi
pada pria dan biasanya berawal sebagai infeksi uretra yang bergerak menuju
prostat lalu ke kandung kemih. Selain itu, infeksi kandung kemih bisa terjadi
akibat pemasangan kateter atau alat yang digunakan selama pembedahan. Penyebab
tersering dari infeksi kandung kemih berulang pada pria adalah infeksi prostat
karena bakteri yang bersifat menetap. Antibiotik dengan segera akan melenyapkan
bakteri dari air kemih di dalam kandung kemih, tetapi antibiotik tidak dapat
menembus prostat dengan baik sehingga tidak dapat meredakan infeksi di dalam
prostat. Karena itu, jika pemakaian antibiotik dihentikan, maka bakteri yang
berada di dalam prostat akan cenderung kembali menginfeksi kandung kemih.
Hubungan abnormal antara kandung kemih
dan usus (fistula
vesikoenterik) kadang menyebabkan
bakteri pembentuk gas masuk dan tumbuh di dalam kandung kemih. Infeksi ini bisa
menyebabkan timbulnya gelembung-gelembung udara di dalam air kemih (pneumaturia).
Pengobatan:
Pada usia lanjut, infeksi tanpa gejala
biasanya tidak memerlukan pengobatan. Untuk sistitis ringan, langkah pertama
yang bisa dilakukan adalah minum banyak cairan. Aksi pembilasan ini akan
membuang banyak bakteri dari tubuh, bakteri yang tersisa akan dilenyapkan oleh
pertahanan alami tubuh.
Pemberian antibiotik per-oral (tablet,
kapsul, sirup) selama 3 hari atau dosis tunggal biasanya efektif, selama belum
timbul komplikasi. Jika infeksinya kebal, biasanya antibiotik diberikan selama
7-10 hari. Untuk meringankan kejang otot bisa diberikan atropin. Untuk
mengurangi nyeri bisa diberikan fenazopiridin. Gejalanya seringkali bisa
dikurangi dengan membuat suasana air kemih menjadi basa, yaitu dengan meminum
baking soda yang dilarutkan dalam air.
Pembedahan dilakukan untuk mengatasi
penyumbatan pada aliran kemih (uropati obstruktif) atau untuk memperbaiki
kelainan struktur yang menyebabkan infeksi lebih mudah terjadi. Biasanya
sebelum pembedahan diberikan antibiotik untuk mengurangi resiko penyebaran
infeksi ke seluruh tubuh.
Pencegahan
Penyakit Infeksi saluran
kemih ini dapat dicegah dengan cara menjaga kebersihan daerah sekitar
genetalia, jangan terlalu sering menahan untuk BAK, dan usahakan untuk lebih
banyak minum air putih yakni minimal 8 gelas perhari. Hal-hal tersebut tentunya
mudah untuk kita terapkan sehari-hari sebelum penyakit infeksi saluran kemih
ini menyerang kita.
Sebagai tindakan pencegahan pada
penderita yang telah mengalami sistitis lebih dari 2 kali, antibiotik bisa
terus diberikan dalam dosis rendah. Antibiotik bisa diberikan setiap hari, 3
kali/minggu atau segera setelah melakukan hubungan seksual.
6.
Kehilangan Nafsu Makan
Dalam Waktu Yang Lama
Sesudah anak lahir ibu akan merasa lelah mungkin juga lemas
karena kehabisan tenaga. Hendaknya lekas berikan minuman hangat ,susu,kopi atau
teh yang bergula. Apabila ibu menghendaki makanan, berikanlahmakanan yang
sifatnya ringan walaupun dalam persalinan lambung dan alat pencernaan tidak
langsung turut mengadakan proses persalinan, tetapi sedikit banyak pasti di
pengaruhi proses persalinan tersebut. Sehingga alat pencernaan perlu guna
memulihkan keadaan kembali. Oleh karena itu tidak benar bila ibu di berikan makanan
sebanyak – banyaknya walaupun ibu menginginkannya. Tetapi biasanya disebabkan
adanya kelelahan yang amat berat, nafsu makan pun akan terganggu, sehingga ibu
tidak ingin makan sampai kelelahan itu hilang.
7.
Rasa Sakit, Merah, Lunak,
Dan Pembengkakan Dikaki (Thrombopeblitis)
Selama masa nifas, dapat terbentuk thrombus sementara
vena-vena maupun di pelvis yang mengalami dilatasi, dan mungkin lebih sering
mengalaminya.
Factor predisposisi :
a) Obesitas
b) Peningkatan umur maternal
dan tingginya paritas
c) Riwayat sebelumnya
mendukung
d) Anestesi dan pembedahan
dengan kemungkinan trauma yang lama pada keadaan pembuluh vena
e) Anemia maternal
f)
Hipotermi atau penyakit jantung
g) Endometritis
h) Varicostitis
Manifestasi :
a) Timbul secara akut
b) Timbul rasa nyeri akibat terbakar
c) Nyeritekanpermukaan
8.
Merasa Sedih Atau Tidak
Mampu Mengasuh Sendiri Bayinya Dan Dirinya Sendiri
Pada minggu – minggu awal setelah persalinan sampai kurang
lebih 1 tahun ibu postpartum cenderung akan mengalami perasaan perasaan yang
tidak pada umumnya, seperti merasa sedih, tidak mampu mengasuh dirinya sendiri
atau bayinya.
Factor penyebab :
a)
Kekecewaaan emosional yang mengikuti
kegiatan bercampur rasa takut yang di alami kebanyakan wanita selama hamil dan
melahirkan
b)
Rasa nyeri pada awal masa nifas
c)
Kelelahan akibat kurang tidur selama
persalinan dan telah melahirkan kebanyakan dirumah sakit
d)
Kecemasanakan kemampuannya untuk
merawat bayinya setelah meninggalkan rumah sakit.
e)
Ketakutanakan menjadi tidak menarik
lagi.
Macam-macam
depresi pada masa nifas:
a.
Postpartum Blues
Ada kalanya ibu mengalami
perasaan sedih yang berkaitan dengan bayinya. Keadaan ini disebut dengan baby
blues, yang disebabkan pleh perubahan perasaan yang dialami ibu saat hamil
sehingga sulit menerima kehadiran bayinya. Perubahan perasaan ini merupakan
respon aami terhadap rasa lelah yang dirasakan. Selain itu, juga karena perubahan
fisik dan emosional selama beberapa bulan kehamilan. Disini hormone memainkan
peranan utama dalam hal bagaimana ibu bereaksi terhadap situasi yang berbeda.
Setelah melahirkan dan lepasnya plasenta dari dinding rahim, tubuh ibu
mengalami perubahan besar dalam jumlah hormon sehingga membutuhkan waktu untuk
menyesuaikan diri. Disamping perubahan fisik, hadirnya seorang bayi dapat
membuat perbedaan besar dalam kehidupan ibudalam hubungannya dengan suami,
orang tua, maupun anggota keluarga lain. Perubahan ini akan kembali secara
perlahan setelah ibu menyesuaikan diri dengan peranan barunya dan umbuh kembali
dalam keadaan normal.
Postpartum blues
merupakan kesedihan atau kemurungan setelah melahirkan, biasanya hanya muncul
sementara waktu yakni sekitar dua hari hingga dua minggu sejak kelahiran bayi.
Beberapa penyesuaian dibutuhkan oleh wanita dalam menghadapi aktivitas dan
peran barunya sebagai ibu pada minggu-minggu atau bulan-bulan pertama setelah
melahirkan, baik dari segi fisik maupun segi psikologis. Sebagian wanita
berhasil menyesuaikan diri dengan baik, tetapi sebagian lainnya tidak berhasil
menyesuaikan diri dan mengalami gangguan-gangguan psikologis, salah satunya
yang disebut Postpartum Blues.
Penyebab dan Gejala
Postpartum Blues
a)
Penyebab Postpartum Blues
Beberapa penyebab Postpartum blues
diantaranya:
1)
Perubahan hormon.
2)
Stress.
3)
ASI tidak keluar.
4)
Frustasi karena bayi tidak mau tidur,
nangis dan gumoh.
5)
Kelelahan pasca melahirkan, dan
sakitnya akibat operasi.
6)
Suami yang tidak membantu, tidak mau
mengerti perasaan istri maupun persoalan lainnya dengan suami.
7)
Problem dengan Orangtua dan Mertua.
8)
Takut kehilangan bayi.
9)
Sendirian mengurus bayi, tidak ada yang
membantu.
10)
Takut untuk memulai hubungan suami
istri, anak akan terganggu.
11)
Bayi sakit (kuning, dll).
12)
Rasa bosan si Ibu.
13)
Problem dengan si Sulung.
b)
Gejala Postpartum Blues
Beberapa gejala yang timbul pada klien
yang mengalami Postpartum Blues diantaranya:
1)
Cemas tanpa sebab.
2)
Menangis tanpa sebab.
3)
Tidak sabar.
4)
Tidak percaya diri.
5)
Sensitive.
6)
Mudah tersinggung.
7)
Merasa kurang menyayangi bayinya.
8)
Jika Postpartum Blues ini dianggap
enteng, keadaan ini bisa serius dan bisa bertahan dua minggu sampai satu tahun
dan akan berlanjut menjadi Postpartum Sindrome.
Masalah pada Postpartum Blues
Beberapa masalah yang dapat timbul pada klien yang mengalami Postpartum
Blues diantaranya:
a)
Menangis dan ditambah ketakutan tidak
bisa memberi ASI
b)
Frustasi karena anak tidak mau tidur
c)
Ibu merasa lelah, migrain dan cenderung
sensitive
d)
Merasa sebal terhadap suami
e)
Masalah dalam menghadapi omongan ibu
mertua
f)
Menangis dan takut apabila bayinya
meninggal
g)
Menahan rasa rindu dan merasa jauh dari
suami
h)
Menghabiskan waktu bersama bayi yang
terus menerus menangis sehingga membuat ibu frustasi
i)
Perilaku anak semakin nakal sehingga
ibu menjadi stress
j)
Adanya persoalan dengan suami
k)
Stress bila bayinya kuning
l)
Adanya masalah dengan ibu
m)
Terganggunya tidur ibu pada malam hari
karena bayinya menangis
n)
Jika ibu mengalami luka operasi ,yang
rasa sakitnya menambah masalah bagi ibu
o)
Setiap kegiatan ibu menjadi terbatas
karena hadirnya seorang bayi
p)
Takut melakukan hubungan suami isteri
karena takut menggangu bayi
q)
Kebanyakan para ibu baru ingin pulang
kerumah orang tuanya dan berada didekat ibunya
Penanganan Postpartum Blues
Dalam fase menjalani adaptasi setelah melahirkan, ibu akan
mengalami fase-fase sebagai berikut:
a) Fase taking in yaitu
periode ketergantungan yang berlangsung pada hari pertama sampai hari kedua
setelah melahirkan.pada saat itu focus
perhatian ibu terutama pada dirinya sendiri. Pengalaman selama proses
persalinan sering berulang diceritakannya.hal ini membuat cenderung ibu menjadi
pasif terhadap lingkungannya.
b) Fase taking hold yaitu
periode yang berlangsung antara 3-10 hari setelah melahirkan. Pada fase ini ibu
merasa khawatir akan ketidakmampuannya dan rasa tanggung jawabnya dalam merawat
bayi. Pada fase ini ibu memerlukan dukungan karena saat ini merupakan
kesempatan yang baik untuk menerima berbagai penyuluhan dalam merawat diri dan
bayinya sehingga timbul percaya diri.
c) Fase letting go merupakan
fase menerima tanggung jawab akan peran barunya yang berlangsung sepuluh hari
setelah melahirkan. Ibu sudah dapat menyusuaikan diri, merawat diri dan bayinya
sudah meningkat.
Cara mengatasi gangguan psikologi pada nifas dengan postpartum blues ada
dua cara yaitu:
a) Dengan cara pendekatan
komunikasi terapeutik
Tujuan dari komunikasi terapeutik ini
adalah menciptakan hubungan baik antara bidan
dengan pasien dalam rangka kesembuhannya dengan cara:
1) Mendorong pasien mampu
meredakan segala ketegangan emosi
2) Dapat memahami dirinya
3) Dapat mendukung tibdakan
konstruktif.
b)
Dengan cara peningkatan support mental
yang dapat dilakukan keluarga diantaranya:
1)
Sekali-kali ibu meminta suami untuk
membantu dalam mengerjakan pekerjaan rumah seperti : membantu mengurus bayinya,
memasak, menyiapkan susu dan lain lain.
2)
Memanggil orangtua ibu bayi agar bisa
memahami ibu dalam menghadapi kesibukan dalam merawat bayi
3)
Suami seharusnya tahu permasalahan yang
dihadapi istrinya dan lebih perhatian terhadap istrinya.
4)
Menyiapkan mental dalam menghadapi anak
pertama yang akan lahir.
5)
Memperbanyak dukungan dari suami
6)
Suami menggantikan peran istrinya
ketika istri kelelahan
7)
Ibu dianjurkan sering sharing dengan
teman-temannya yang baru saja melahirkan.
8)
Bayi menggunakan pempers untuk
meringankan kerja ibu
9)
Mengganti suasana, dengan
bersosialisasi
10)
Suami sering menemani istri dalam
mengurus bayinya
Selain hal diatas, penanganan pada klien postpartum blues pun dapat
dilakukan pada diri klien sendiri, diantaranya dengan cara:
1) Belajar tenang dengan
menarik nafas panjang dan meditasi
2) Tidurlah ketika bayi
tidur
3) Berolahraga ringan
4) Ikhlas dan tulus dengan peran
baru sebagai ibu
5) Tidak perfeksionis dalam
hal mengurus bayi
6) Bicarakan rasa cemas dan
komunikasikan
7) Bersikap fleksibel
8) Kesempatan merawat bayi
hanya datang 1x
9) Bergabung dengan kelompok
ibu
Pencegahan postpartum blues
Berikut ini beberapa kiat mungkin dapat mengurangi resiko postpartum blues yaitu:
a) Pelajari diri sendiri
Pelajari dan mencari informasi mengenai
postpartum blues, sehingga ibu sadar terhadap kondisi ini. Apabila terjadi, ibu
akan segera mendaapatkan bantuan secepatnya.
b) Tidur dan makan yang
cukup
Diet nutrisi cukup penting untuk
kesehatan, lakukan usaha yang terbaik dengan makan dan tidur yang cukup.
Keduanya penting selama periode postpartum dan kehamilan.
c)
Olahraga
Olahraga adalah kunci untuk mengurangi
postpartum. Lakukan peregangan selama 15 menit dengan berjalan setiap hari,
sehingga membuat ibu merasa lebih baik dan menguasai emosi berlebihan dalam
diri ibu.
d)
Hindari perubahan hidup sebelum atau
sesudah melahirkan
Jika memungkinkan, hindari membuat keputusan
besar seperti membeli rumah atau pindah kerja, sebelum atau setelah melahirkan.
Tetaplah hidup secara sederhana dan menghindari stress, sehingga dapat segera
dan lebih mudah menyembuhkan postpartum yang diderita.
e)
Beritahukan perasaan
Jangan takut untuk berbicara dan
mengekspresikan perasaan yang ibu inginkan dan butuhkan demi kenyamanan ibu
sendiri. Jika memiliki masalah dan merasa tidak nyaman terhadap sesuatu, segera
beritahukan pada pasangan atau orang terdekat.
f)
Dukungan keluarga dan orang lain
diperlukan
Dukungan dari keluarga atau orang yang
ibu cintai selama melahirkan, sangat diperlukan. Ceritakan pada pasangan atau
orang tua ibu, atau siapa saja yang bersedia menjadi pendengar yang baik.
Yakinkan diri ibu, bahwa meereka akan selalu berada disini ibu setiap mengalami
kesulitan.
g)
Persiapan diri dengan baik
Persiapan sebelum melahirkan sangat
diperlukan.
h)
Senam hamil
Kelas senam hamil akan sangat membantu
ibu dalam mengetahui berbagai informasi yang diperlukan, sehingga nantinya ibu
tak akan terkejut setelah keluar dari kamar bersalin. Jika ibu tau apa yang
diinginkan, pengalaman traumatis saat melahirkan akan dapat dihindari.
i)
Lakukan pekerjaaan rumah tangga
Pekerjaan rumah tangga sedikitnya dapat
membantu ibu melupakan golokan perasaan yang terjadi selama terjadi postpartum.
Kondisi ibu yang belum stabil, bisa ibu curahkan dengan memasak ataau
membersihakn rumah. Mintalah dukungan dari keluarga dan lingkungan ibu, meski
pembantu rumah tangga ibu telah melakukan segalanya.
j)
Dukungan emosional
Dukungan emosi dari lingkungan dan juga
keluarga, akan membantu ibu dalam mengatasi rasa frustasi yang menjalar.
Ceritakan kepada mereka bagaimana perasaan serta perubahan kehidupan ibu,
hingga ibu merasa lebih setelahnya.
k)
Dukungan kelompok Postpartum blues
Dukungan terbaik datang dari
orang-orang yang ikut mengalami dan merasakan hal yang sama dengan ibu. Carilah
informasi mengenai adanya kelompok postpartum blues yang bisa ibu ikuti,
sehingga ibu tidak merasa sendirian menghadapi persoalan ini.
Asuhan Pada Post Partum Blues
Konseling yang dapat diberikan sebagai asuhan terhadap klien dengan
postpartum blues diantaranya:
a) Memberitahukan pada klien
untuk menyadari bahwa dirinya bukanlah ibu yang buruk. Bukan salah klien
memiliki pemikiran atau perasaan yang berlebihan pada postpartum.
b) Memberitahu klien untuk
memperlakukan dirinya dengan baik dengan cara:
1) Makan makanan bergizi
(hindari alkohol daan kafein)
2) Banyak istirahat dan
tidur
3) Pergi kelur untuk
mendapat cahaya matahari
4) Berlatih secara rutin
(berjalan selama 20 menit atau lebih)
5) Menyediakan waktu untuk
diri sendiri (untuk sejenak menghindari tugas-tugas dan urusan bayi)
6) Melewatkan waktu bersaama
keluarga dan teman-teman
c) Anjurkan klien untuk
memberitahu teman yang terpercaya mengenai
perasaan yang dirasakan, khususnya bila muncul kekhawatiran akan
menyakiti diri sendiri atau bayi anda.
d) Bila perlu, anjurkan
klien untuk berkonsultasi dengan dokter tentang terapis dan kelompok pendukung yang dapat menolong. Bahkan lebih
baik lagi untuk menemui dokter spesialis kesehatan mental untuk meminta resep
obat atau psikolog untuk berkonsultasi.
b.
Depresi Pospartum
(Depresi Setelah Melahirkan)
Menurut sudarso (1997),
kecenderungan adalah hasrat, keinginan yang selalu timbul berulang-ulang.
Sedangkan ansari (1996), berpendapat bahwa kecenderungan merupakan susunan atau disposisi untuk
berkelakuan dalam car yang benar.
Haplin (1995),
mengartikan kecenderungan merupakan susunan
sebagai suatu set atau satu
susunan sikap untuk bertingkah laku dengan car tertentu. Soekanto (1993),
menyatakan kecenderungan merupakan suatu dorongan yang muncul dari dalam
individu secara inharen menuju suatu arah tertentu untuk menunjukan suka atau tidak suka kepada suatu objek.
Manusia dalam
kehidupannya tidak terlepas dari berbagai permasalahan, baik yang tergolong
sederhana sampai yang kompleks. Semua itu membutuhkan kesiapan mental untuk
menghadapinya. Pada kenyataannya terdapat gangguan mental yang sangat menggangu
dalam hidu manusia, yang salah satunya adalah depresi. Gangguan mental
emosional ini bias terjadi pada siapa saja, kapan saja, dari kelompok mana
saja, dan pada segala rentang usia. Bagi penderita depresi ini selalu dibayangi
ketakutan, kengerian, ketidakbahagian serta kebencian pada mereka sendiri. Hadi
(2004), menyatakan secara sederhanana dapat dikatakan bahwa depresi adalah
suatu pengalaman yang menyakitkan suatu perasaan tidak ada harapan lagi.
Kartono (2002) menyatakan
bahwa depresi adalah keadaan patah hati atau putus asa yang disertai dengan
melemahnya kepekaan terhadap stimulus tertentu, pengurangan aktivitas fisik
maupun mental dan kesulitan dalam berfikir, lebih lanjut kartono menejelaskan
bahwa gangguan depresi disertai dengan kecemasan, kegelisahan dan keresahan,
perasaan bersalah, perasaaan menurunnya martabat diri atau kecenderungan bunuh
diri.
Trisna (Hadi 2004),
menyimpulkan bahwa depresi adalah suatu perasaan sendu atau sedih yang biasanya
disertai dengan diperlambatnya sedikit gerak dan fungsi tubuh. Mulai dari
perasaan murung sedikit sampai pada keadaan tidak berdaya. Individu yakin tidak
melakukan apapun untuk mengubahnya dan merasa bahwa resspon apa pun yang
dilakukan tidak akan berpengaruh pada hasil yang muncul.
Individu yang mengalami
depresi sering merasa dirinya tidak berharga dan merasa bersalah. Mereka tidak
mampu memusatkan pikirannya dan tidak dapat membuat keputusan. Individu yang
merasakan deprsi akan menyalahkan diri sendiri, merasakan kesedihan yang
mendalam dan rasa putus asa tanpa sebab. Mereka mempersiapkan diri sendiri dan
seluruh alam dunia dalam suasana yang gelap dan suram. Pandangan suram ini
menciptakan perasaan tanpa harpan dan ketidakberdayaan yang berkelanjutan
(Albin, 1991).
Depresi menurut Kaplan
dan sadock (1998), merupkan suatu masalah terganggunya fungsi manusia yang
berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk
perubahan pada pola tidur, Nafsu makan,
psikomotorkonsentrasi, anheddonia, kelelahan, rasa putus asa dan tidak
berddaya, serta gagasan bunuh diri.
Sebagian perempuan
menganggap bahwa masa-masa setelah
persalinan adalah masa-masa sulit yang akan menyebabkan mereka mengalami
tekanan secara emosional. Gangguan gangguan psikologis yang muncul akan
mengurangi kebahagiaan yang dirasakan, dan sedikit banyak mempengaruhi hubungan
anak dan ibu kemudian hari. Hal ini bias muncul dalam durasi yang sangat
singkat atau berupa serangan yang sangat berat selama berbulan-bulan atau
bertahum-tahun lamanya.
Secara umum sebagian
besar wanita mengalami gangguan emosional setelah melahirkan. Clydee (regina
dkk, 2001), bentuk gangguan postpartum yang umum adalah depresi, mudah marah,
dan terutama mudah frustasi serta emosional.
Faktor-Faktor Penyebab Depresi Postpartum
Pitt ( regina dkk 2001), mengemukakan 4
faktor penyebab depresi postpartum sebagai berikut.
a) Faktor konstitusional
gangguan post partu yang berkaitan dengna status paritas adalah riwayat obstetric pasien yang meliputi
riwayat hamil sampai sampai bersalin serta apakah ada komplikasi dari kehamilan
dan persalinan sebelumnya dan terjadi lebih banyak pada wanita primipara .
Wanita primipara lebih umum menderita blues karena setelah melahirkan wanita primipara berate dalam proses adaptasi , kalau dulu hanya memikirkan diri
sendiri begitu bayi lahir ika ibutidak paham perannya ia akan menjadi bingung
sementara bayinya harus tetap dirawat.
b) Faktor fisik. Perubahan
fisik setelah melahirkan dan memuncaknya gangguan mental selama 2 minggu
pertama menunjukan bahwa factor penting. Perubahan hormonal secara drastic
setelah melahirkan dan periode laten selama dua hari diantara kelahiran dan
munculnya gejala. Perubahan ini sangat berpengaruh pada keseimbangan. Kadang progesterone naik
dan esterogen yang menurun secara cepat
setelah melahirkan merupakan factor penyebab yang sudah pasti.
c) Faktor psikologis. Peralihan
yang cepat dari keadaan “dua dalam satu” pada akhir kehamilan menjadi dua
individu yaitu ibu dan anak bergantung pada penyesuaian psikologis individu.
Klaus dan kennel (regina dkk, 2001), menidentifikasikan pentingnya cinta dalam
menanggulangi masa peralihan ini untuk memulai hubungan baik antara ibu dan
anak.
d) Faktor sosial. Paykel
(regina dkk 2001) mengemukakan bahwa pemukiman yang tidak memadai lebih sering
menimbulkan depresi pada ibu-ibu, selain kurangnya dukungan dalam perkawinan.
Menurut kruckman (yanita
dan zamaralita , 2001) menyatakan terjadinya depresi dipengaruhi oleh faktor :
a) Biologis. Faktor biologis
dijelaskan bahwa depresi postpartum sebagai akibat kadar hormone seperti
estrogen, progesterone dan prolaktin yang terlalu tinggi atau terlalu rendah
dalam masa nifas atau mungkin perubahan hormone
tersebut terlalu cepat atau terlalu lambar.
b) Karakteristik ibu , yang
meliputi:
1) Faktor umur. Sebagian
besar masyarakat percaya bahwa saat yang tepat bagi seseorang perempuan untuk melahirkan pada usia antara 20-30 tahun, dan hal ini mendukung
masalah periode yang optimal bagi bagi perawatan bayi oleh seorang ibu.
2) Faktor pengalaman.
Beberapa penetian diantaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh paykel dan
inwood (regina dkk, 2001) mengatakan bahwa depresi pasca salin ini lebih
banyak ditemukan pada perempuan
primipara, mengingat bahwa peran seorang ibu dan segala yang berkaitan dengan
bayinya merupakan situasi yang sama sekali baru bagi dirinya dan dapat
mnimbulkan stress. Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Le Masters yang
melibatkan suami istri mida dari kelas social menengah mengajukan hipotesis bahwa 83% dari mereka mengalami krisis
setelah melahirkan bayi pertama.
3) Faktor pendidikan.
Perempuan yang berpendidikan tinggi menghadapi tekanan sosial dan konflik
peran, antara tuntutan sebagai perempuan yang memiliki dorongan untuk bekerja
atau aktivitasnya di luar rumah, dengan pern mereka sebagai ibu rumah tanggga
dan orang tua dari anak-anak mereka (Kartono, 1992)
4) Faktor selama proses
persalinan. Hal yang mencakup lamanya persalinan, serta infestasi medis yang
digunakan selama proses persalinan. Diduga semakin besar trauma fisik yang
ditimbulkan pada saat persalinan, maka akan semakin besar pula trauma psikis
yang muncul dan kemungkinan perempuan yang bersangkutan akan menghadapi depresi
pascasalin.
5) Faktor dukungan social.
Banyaknya kerabat yang membantu pada saat kehamilan, persalinan dan pascasalin,
beban seorang ibu karena kehamilannya sedikit banyak berkurang.
Berdasarkan uraian diatas
dapat disimpulkan bahwa faktor penyebab depresi postpartum adalah faktor
konstitusional, faktor fisik yang terjadi karena adanya ketidakseimbangan
hormonal, faktor psikologi, faktor sosial dan karakteristik ibu.
Gejala –Gejala depresi postpartum
a) Mimpi buruk. Biasanya
terjadi sewaktu tidur REM. Berupa mimpi-mimpi yang menakutkan, individu yang
sering terbangun sehingga dapat mengakibatkan insomnia.
b) Insomnia. Biasanya timbul
sebagai gejala suatu gangguan lain yang mendasarinya seperti kecemasan dan
depresi atau gangguan emosi lain yang terjadi dalam hidup manusia.
c) Phobia. Rasa takut yang
irasional terhadap sesuatu benda atau keadaan yang tidak dapat dihilangkan atau
ditekan oleh pasien, biarpun diketahuinya bahwa hal itu irasional adanya. Ibu
yang melahirkan dengan bedah Caesar sering merakan kembali dan mengingat
kelahiran yang dijalaninya.ibu yang mengalami bedah Caesar akan merasakan emosi
yang bermacam-macam. Keadaan ini dimulai dengan perasaan syok dan tidak percaya
terhadap apa yang telah terjadi. wanita yang pernah mengalami bedah Caesar akan
melahirkan dengan bedah Caesar pula untuk kehamilan berikutnya. Hal ini bisa
membuat rasa takut terhadap peralatan-peralan operasi dan jarum
(Duffet-Smith,1995).
d) Kecemasan. Ketegangan,
rasa tidak aman dan kekhawatiran yang timbul karena dirakan akan terjadi
sesuatu yang tidak menyenangkan, tetapi sumbernya sebagian besar tidak diketahuinya.
e) Meningkatkan
sensitivitas. Periode pasca kelahiran meliputi banyak sekali penyesuaian diri dan pembiasaan diri. Bayi harus diurus,
ibu harus pulih kembali dari persalinan anak, ibu harus belajar bagaimana
merawat bayi, ibu perlu belajar merasa puas atau bahagia terhadap dirinya
sendiri sebagai seorang ibu. Kurangnya pengalaman atau kurangnya rasa percaya
diri dengan bayi yang lahir, atau waktu dan tuntutan yang ekstensif akan
meningkatkan sensitivitas ibu (Santrock, 2002)
f)
Perubahan mood.
c.
Post Partum Psikosa
Adalah depresi yang
terjadi pada minggu pertama dalam 6 minggu setelah melahirkan. Meskipun
psikokis pada masa nifas merupakan sindrom pasca partum yang sangat jarang
terjadi, hal itu dianggap sebagai gangguan jiwa paling berat dan dramatis yang
terjadi pada periode pasca partum.
Penyebab Post Partum Psikosa
Disebabkan karena wanita
menderita bipolar disorder atau masalah psikiatrik lainya yang disebut
schizoaffaktif disorder. Wanita tersebut mempunyai resiko tinggi untuk terkena
post partum psikosa. Hubungan yang kuat antara riwayat keluarga dengan gangguan
depresi mania (ibu dan ayah) dan psikosis pada masa nifas menunjukan adanya
hubungan genetik.
Gejala Post Partum Psikosa
Gejala bervariasi, muncul secara
dramatis dan sangant dini serta berubah dengan cepat. Gejala tersebut biasanya
meliputi perubahan suasana hati, perilaku yang tidak irasional dan gangguan
agitas, ketakutan dan kebingangan karena ibu kehilangan kontak dengan realitas
secara cepat. Awitanya sangat tiba-tiba, mayoritas terjadi sebelum 16 hari
pasca partum. Gambaran gejala post partum psikosa adalah :
a) Delusi
b) Obsesi mengenai bayi
c) Keresahan dan agitasi
d) Gangguan perilaku mayor
e) Kebingungan dan konfusi
f)
Rasa curiga dan ketakutan
g) Pengabaian kebutuhan
dasar
h) Gangguan saat tidur atau insomnia
i)
Suasana hati depresi yang mendalam
j)
Episode mania, yang membuat ibu menjadi
hiperaktif
k) Halusinasi dan pemikiran
waham morbid yang melibatkan ibu dan bayinya
Gambaran Klinik, Pencegahan dan
Penatalaksanaan
Pada wanita yang menderita dapat terkena perubahan mood
secara drastis, dari depresi ke gusaran dan berganti menjadi euphoria dalam
waktu singkat. Penderita kehilangan semangat dan kenyamanan dalam beraktifitas,
sering menjauhkan diri dari teman atau keluarga, sering mengeluh sakit kepala
dan nyeri dad, jantung berdebar-debar serta nafas secara cepat.
Untuk mengurangi jumlah penderita ini sebagai anggota
keluarga hendaknya harus lebih memperhatikan kondii dan keadaan ibu serta
memberikan dukungan psikis agar tidak merasa kehilangan perhatian.
Saran kepada penderita
untuk :
a) Beristirahat cukup
b) Mengonsumsi makanan
dengan gizi yang seimbang
c) Bergabung dengan
orang-orang yang baru
d) Bersikap fleksible
e) Berbagi cerita dengan
orang terdekat
f)
Sarankan untuk berkonsultasi dengan
tenaga medis
B.
Contoh
Soap Askeb Nifas
ASUHAN
KEBIDANAN PADA IBU NIFAS DENGAN
KELUHAN
PAYUDARA BENGKAK 6 HARI POST PARTUM
TERHADAP
Ny. N DI BPS FITRIA
NO. Register : 20021995
Tanggal Pengkajian/ Jam : 22 Oktober 2014/ 14.00 WIB
Pengkaji : Fitria, A.Md.Keb
A.
DATA
SUBJEKTIF
Identitas
Nama Istri : Ny.N Nama Suami : Tn.A
Umur : 25
tahun Umur : 28
tahun
Agama : Islam Agama : Islam
Suku / bangsa : Jawa/Indonesia Suku / bangsa : Jawa/Indonesia
Pendidikan :
SMA Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga Pekerjaan :
Wiraswasta
Alamat : Jl. Seruni No. 13 Bengkulu Alamat : Jl. Seruni No. 13
1.
Ibu
mengatakan payudaranya bengkak dan sakit saat menyusui.
2.
Ibu
mengatakan melahirkan anak pertama 6 hari yang lalu.
3.
Ibu mengatakan
melahirkan secara spontan, plasenta lahir lengkap, berat badan bayi 2900 gram.
Tidak terjadi penyulit atau komplikasi selama persalinan berlangsung.
4.
Ibu
mengatakan tidak ada riwayat penyakit menular atau penyakit keturunan.
5.
Ibu
mengatakan dalam keluarga tidak ada yang menderita suatu penyakit menular atau
penyakit keturunan yang memerlukan perawatan khusus.
6.
Ibu
mengatakan makan 3 kali sehari, dengan menu nasi 1 piring, sayur 1 mangkok,
ikan 2 potong, buah-buahan, air putih 8-9 gelas perhari, jus, dan susu.
7.
Ibu
mengatakan BAK ± 4 kali sehari, BAB 1 kali sehari dan Ibu istirahat tidur 7-8
jam sehari.
8.
Ibu
mengatakan mengganti pembalut 2 kali sehari.
9.
Ibu mengatakan suami
dan keluarga sangat senang dan menerima kelahiran bayinya.
10.
Ibu
mengatakan keluarga sangat mendukung dalam perawatan bayi.
11.
Ibu
mengatakan hubungan dengan suami, keluarga dan tetangga baik.
12.
Ibu
mengatakan tidak teratur menyusui bayinya dan masih bingung cara menyusui yang
baik dan benar.
13.
Ibu
mengatakan ekonomi keluarga mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari.
B.
DATA OBJEKTIF
1. Pemeriksaan Umum
Keadaan umum :
Baik
Kesadaran : Compos mentis
2. Tanda vital
a. TD :
120/80 mmHg RR : 23 x / menit
b. Nadi : 80 x / menit Suhu : 36,5 oC
3. Pemeriksaan Fisik
a. Kepala : tidak ada
nyeri tekan ,tidak ada benjolan/masa , kulit kepala bersih, rambut tidak rontok.
b. Wajah : tidak ada
bekas luka, tidak ada oedema, tidak ada cloasma.
c. Mata : tidak ada pembengkakan pada
palpebra, konjungtiva merah
muda, sklera putih.
d. Hidung : tidak ada
polip, tidak ada tanda infeksi.
e. Mulut dan gigi : bibir lembab tidak pucat, rongga mulut
bersih, tidak
ada sariawan, tidak ada karang gigi, tidak ada karies, gusi tidak bengkak dan tidak
berdarah, lidah bersih, tidak ada pembengkakan kelenjar tonsil.
f.
Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar
limfe, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada pembesaran kelenjar parotis, tidak ada pembesaran
vena jugularis.
g. Payudara : simetris, ada benjolan,
ada
hiperpigmentasi aerola mamae, payudara mengkilat dan tegang, puting susu
menonjol
dan ada lecet, ASI sudah keluar, teraba pembengkakan pada payudara, adanya nyeri
tekan.
h. Abdomen : tidak ada luka bekas operasi, ada striae, ada linea nigra dan
linea alba,
kontraksi uterus baik, TFU pertengahan pusat simpisis, distensi blass
kosong, diastasis recti normal.
i.
Pinggang : tidak ada nyeri tekan
j.
Genetalia :
lochea sanguinolenta, bau amis normal, tidak ada odema, tidak ada
radang, tidak ada varises, tidak ada pembesaran kelenjar bartholini, tidak ada jahitan, tidak ada
tanda-tanda infeksi.
k. Ekstremitas
Atas : Simetris, fungsi pergerakan baik, kuku tidak
pucat, tidak ada odema, tidak ada cacat.
Bawah : Simetris, fungsi pergerakan baik, kuku
tidak pucat, tidak ada odema dan varises, homan (-), reflek patela
(+).
l.
Anus :
tidak ada
haemorroid
4. Uji Diagnostik
a. Darah : Hb 12 gram %
C. ANALISA
Ny.N Umur 25 tahun P1A0 6 hari
postpartum dengan
payudara
bengkak.
D.
PENATALAKSANAAN
1. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan meliputi :
TD :
120/80 mmHg RR : 23 x / menit
Nadi :
80 x / menit Suhu : 36,5 oC
Payudara bengkak disebabkan
oleh terlambat atau tidak teraturnya ibu menyusui bayinya, sehingga sisa ASI
tersumbat pada daerah duktus.
Evaluasi :
Ibu mengerti dan mengetahui
hasil pemeriksaannya.
2. Mengajarkan dan membantu ibu
melakukan perawatan payudara bengkak dengan cara sebagai berikut :
a.
Mengkompres
hangat pada payudara yang bengkak untuk mengurangi rasa sakit dengan
menggunakan sapu tangan.
b.
Kemudian
melakukan pijat leher dan punggung belakang untuk pengeluaran ASI dengan cara
ibu membungkuk bertopang kepala pada kursi. Meminta bantuan suami atau keluarga
untuk memijatnya.
c.
Kemudian
melakukan pijat ringan pada payudara yang bengkak dengan 3 jari secara perlahan
kearah tengah.
d.
Melakukan
stimulasi payudara dan putting dengan cara bayi disusukan.
e.
Pasca
menyusui lakukan kompres dingin pada payudara.
f.
Menganjurkan
pada ibu untuk mengenakan BH yang sesuai dan nyaman serta mengganti BH yang
basah agar tidak menimbulkan jamur.
Evaluasi : Ibu mengerti dan melakukan perawatan
payudara bengkak dengan dibantu juga oleh suami atau keluarga.
3.
Mengajarkan dan membantu ibu melakukan teknik
menyusui yang benar
dengan cara sebagai berikut :
a.
Cuci
tangan sebelum dan sesudah menyusui.
b.
Posisikan
kepala bayi di siku ibu, lengan menyangga punggung dan telapak tangan menyangga
bokong.
c.
Kepala dan tubuh bayi lurus, tubuh bayi menghadap
kedada ibu sehingga mulut bayi tepat berada di depan puting susu ibu.
d.
Perut
bayi menempel pada perut ibu.
e.
Pencet
payudara sampai keluar beberapa tetes lalu oleskan ke puting dan sekitarnya
(aerola mamae), memegang payudara dengan ibu jari di atas dan empat jari
menyangga bagian bawah payudara lalu tempelkan puting susu pada pipi maupun
bibir bayi setelah mulut bayi membuka masukan puting susu dan sebagian besar
areola mamae masuk kedalam mulut bayi.
f.
Lalu
menyendawakan bayi agar tidak muntah dengan cara meletakkan bayi di pundak ibu
lalu punggung bayi ditepuk halus sampai bersendawa atau meletakkan bayi di
pangkuan ibu secara tengkurap lalu punggung bayi ditepuk halus sampai
bersendawa.
Evaluasi : Ibu
telah mengerti tentang teknik menyusui yang benar dibuktikan dengan ibu
melakukan apa yang dikatakan bidan
4.
Menjelaskan
dan mengajarkan ibu perawatan tali pusat, menjaga bayi tetap hangat, dan
merawat bayi sehari-hari seperti :
a.
Tali
pusat tetap dijaga kebersihannya. Biarkan tali pusat dalam kedaan terbuka atau
tidak perlu diisi kasa, alkohol atau apapun. Ikat popok dibawah tali pusat,
untuk menghindari tali pusat terkena kotoran bayi.
b.
Jaga
kehangatan bayi dengan cara, jangan membiarkan bayi bersentuhan langsung dengan
benda dingin, misalnya lantai, atau tangan yang dingin. Jangan letakkan bayi
dekat jendela, atau kipas angin. Segera keringkan bayi setelah mandi atau saat
bayi basah, untuk mengurangi penguapan, dan jaga lingkungan sekitar bayi tetap
hangat.
c.
Perawatan
bayi sehari-hari seperti: hanya berikan ASI saja kepada bayi sampai usia 6
bulan. Segera ganti popok bayi setelah BAK atau BAB. Keringkan bayi segera
setelah mandi.
Ev : Ibu mengerti dan akan mengikuti saran yang diberikan
oleh bidan.
5.
Memberitahu ibu untuk melakukan kunjungan
ulang satu minggu lagi
Evaluasi :
Ibu mau melakukan kunjungan ulang yang
ke tiga satu minggu lagi.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Masa nifas merupakan masa yang
diawali sejak beberapa jam setelah plasenta lahir dan berakhir setelah 6 minggu
setelah melahirkan. Akan tetapi seluruh organ kandungan baru pulih kembali,
seperti dalam keadaan sebelum hamil dalam waktu 3 bulan setelah bersalin.
Deteksi
dini komplikasi masa nifas yaitu:
1.
Perdarahan pervaginam
2.
Infeksi Masa Nifas
3.
Sakit Kepala,Nyeri Epigastrik,Penglihatan
Kabur
4.
Pembengkakan Di Wajah Atau Ekstermitas
5.
Demam,Muntah,Rasa Sakit Waktu Berkemih
6.
Kehilangan Nafsu Makan Dalam Waktu Yang
Lama
7.
Rasa Sakit, Merah, Lunak, Dan
Pembengkakan Dikaki
(Thrombopeblitis)
8.
Merasa Sedih Atau Tidak Mampu Mengasuh
Sendiri Bayinya Dan
Dirinya Sendiri
B.
Saran
Untuk mahasiswa kebidanan agar lebih
meningkatkan keterampilan untuk mendeteksi secara dini komplikasi pada masa
nifas
1.
DAFTAR PUSTAKA
Ambarwati,2008.Asuhan Kebidanan Nifas.Yogyakarta: Mitra
Cendikia
Angsar M.Dikman,1995.Hipertensi Dalam Kehamilan,Lab/UPF
Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran UNAIR/RSUD Dr. Soetomo. Surabaya
-1994,Obstetri Phantom,Fakultas Kedokteran
Airlangga, Surabaya
Bhiyatun.2009.Asuhan Kebidanan Nifas Normal.
Jakarta:EGC
Bennet R. Brown Linda
K.1996.Myles Text Book For Midwifes.Chrurcchill Livingstone.Tokyo
BMSG.2001 .Practical Hints on Ereastfeeding. Second
edition revised. Breastfeeding Mother’s
Support Group. Singapore
Bobak,dkk.2004.Keperawatan Maternitas. Hal 460,Jakarta:
EGC
DennenC.Philip.1994.Partus Forceps.Binarupa Aksara.Jakarta
Depkes RI. 1992.Manajemen Laktasi.Pusdiknakes
WHO,JHIPIEGO. Jakarta
DepkesRI (1990). Buku Pedoman Pengenalan Tanda Bahaya pada
Kehamilan,Persalinan dan Nifas. Departemen Kesehatan

0 komentar:
Posting Komentar